Bab 56. Canggung

2.7K 378 8
                                        

Masih di pesta, kue yang tersedia disini sangat banyak seperti aksesoris yang hanya di pajang tidak di makan. Orang orang sibuk berbicara dengan teman yang setara dengan mereka. Kulihat ayah dan Ibu sangat sibuk berbicara dengan orang orang. Ku pandang lagi singgasana masih kosong, sang pemilik pesta belum datang. Alexsa menawarkan aku kue coklat sambil mencoba menarik perhatian ku akan cerita yang dia ucapakan. Austin berbicara dengan Claris, seakan mereka sudah pernah bertemu sebelumnya.

Ku gigit kue coklat itu, rasa manis memenuhi mulutku 'tidak buruk' pikir ku. Semakin memakan kue dengan lahap.

Gerombolan nona nona muda berjalan ke arahku, Ruby berada di tengah tengah mereka. Aku menghela nafas, malas untuk berbicara dengan gerombolan itu, ibaratnya mereka itu ciwi ciwi sosialita semua gossip dimulai dari mulut mereka ditambah ada Ruby yang merupakan salah satu mawar. Ingat Ruby tidak termasuk orang baik, dia baik jika ada mau nya menurut novel. Mirip dengan Ibu nya.

Ngomong ngomong soal orang tua nya. mereka pasti disini. Aku pun melirik ke kiri kanan berharap mereka tidak di dekat ku atau setidaknya lupa kalau Tiara pernah ada.

"Nona Glorify, bagaimana kabar mu?" ujar seorang gadis menutup mulutnya dengan kipas.

"Baik" ucap ku dengan singkat.

"Ahh, Apa anda yakin anda baik baik saja?" ujarnya dengan nada kasihan.

"Jika anda merasa tidak enak badan, kami bersedia membantu anda nanti" celetuk salah satu gadis.

Apa inti dari perkataan gadis gadis ini? apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?

Claris berdiri di samping ku. Gadis gadis itu menunduk hormat.

"Maaf, tapi saya harus membawa nona Glorify. Kalian tidak keberatan bukan?" ucap Claris terdengar seperti perintah.

Gadis gadis itu tidak berbicara apa apa.

"Saya rasa kediaman kalian itu berarti iya"

Claris menarik ku menjauh dari gerombolan gadis gadis itu. saat berjalan menjauh, suara terompet terdengar nyaring. Semua mata menuju ke pintu tadi. Mereka langsung menunduk hormat, aku pun ikut gerakan mereka. 3 pasangan, pemimpin kerajaan, berjalan berbarengan.

Aura hitam Raja David membuat rasa takut muncul lagi. sesampainya mereka di singgasana, semua orang berdiri tegak. Music kembali di putar. Ku lihat wajah para Raja dan Ratu itu. seperti yang kuduga Wajah Raja David masih tidak bisa kulihat dan ada tambahan di tubuhnya yang berupa rantai yang bergerak. Ku kucek mata ku, 'ini nggak salah lihat kan?'.

Ray berdiri di samping Raja David. Aura hitam di tubuhnya bertambah banyak dan hampir menutup wajahnya.

"Kau melihat aura gelap itu Diana?" tanya Claris.

Ku tatap Claris, "kau melihatnya juga?" ucapku merasa tak yakin akan pendengaran ku barusan.

Claris mengangguk.

"Itu apa?" tanya ku.

"Akan ku jelaskan nanti, dan pakai ini" Claris memberiku bunga Noiva.

Ku ambil bunga itu, aku merasakan sihir cahaya yang hangat menyelimuti bunga Noiva. Ku pasang bunga itu di rambutku. Masing masing Raja mulai berbicara tentang pedamaian yang mereka buat. Semuanya bertepuk tangan akan hal itu. merayakan perdamaian antara 3 kerajaan.

Ibu Hector memperhatikan diriku. Dia berjalan turun mendekati diriku dan Claris, dia tidak sendiri suaminya juga ikut datang mendekati ku. Aku meneguk saliva ku dengan kasar. Di belakang mereka Raja dan Ratu Kerajaan Mahina mengikuti. Beberapa orang berbisik bisik akan hal itu. 'apa ada sesuatu yang salah?' pikir ku merasa situasi semakin aneh.

Aku menunduk hormat, "Diberkatilah sang matahari".

"Sudah lama kita tidak bertemu Lady Diana Glorify" ucap Ratu memberi ku ijin berdiri.

"Maaf atas hal tersebut" jawabku merasa tidak enak.

Ratu tersenyum canggung. Raja David yang berdiri di samping Ratu membuat hawa semakin tertekan. Aku tidak bisa melihat ekspresi yang dibuat oleh nya. disisi lain Raja dan Ratu Mahina melihat diriku dengan rasa penasaran.

"Bunga itu?" ujar Ratu Mahina menyentuh bunga Noiva.

"Ah- bunga ini-

"Di beri oleh Apollo kan , Diana?" ujar Claris.

Aku memang punya bunga ini dari Apollo tapi bunga ini kan tadi kamu yang kasih. Aku menatap Claris meminta penjelasan. Tapi Claris sendari tadi senyam senyum ke Para Raja dan Ratu.

"Begitu kah..." gumam Ratu.

Kak Nicholas berdiri di samping Ratu Mahina. Raja Mahina berkata, "Bisakah Lady mengikuti kami?"

"Tentu saja!" ucap Claris dengan cepat.

Mata ku membesar akan ucapan putri yang disebelah ku. Seakan tidak ada pilihan lain aku mengikuti Raja dan Ratu Mahina dan Ayah dan Ibu ku juga berjalan di samping ku. Kulihat Kak Nicholas berjalan di samping ratu tersenyum. Sedangkan Claris melambai tangan perpisahan, Lalu Aura Raja David yang semakin menyebar.

Kami semua sekarang berada di ruang tunggu khusus, pengawal menjaga di depan pintu. Kulihat ekspresi ayah dan Ibu yang cukup tengang seperti akan terjadi sesuatu yang menakutkan sedangkan ekspresi Raja dan Ratu Mahina lebih tenang dan santai. Kak Nicholas duduk disamping diriku beberapa kali tersenyum, 'apa dia masih waras?'

"Bisakah pembicaraan ini dilakukan oleh saya dan istri saya?" ucap Ayah.

Raja dan Ratu Mahina tampak terkejut akan permintaan yang diminta oleh Ayahku. Kak Nicholas juga tampak tidak senang. Dengan tenang Raja Mahina mengangguk, menyanggupi permintaan ayah.

Dan aku terpaksa berjalan keluar dengan Kak Nicholas. Aku menghela nafas, sekarang ada dua jalan, satu nya ke pesta lagi dan satu nya entah kemana. Daripada aku ke pesta lagi lebih baik aku berjalan ke antah berantah. Kak Nicholas mengikutiku. Kurasa dia cukup marah saat di usir tadi. Ah, jika di pikir pikir kerajaan Mahina punya 1 pewaris jadi pewaris itu Kak Nicholas? Wajar saja gadis gadis itu bersikap manja di akademi.

Merasa suasana terlalu sunyi, aku mencoba memecahkan suasana "Eee, Kakak tidak apa apa?"

Kak Nicholas menggeleng.

'kok dia jadi bisu?mpadahal di pesta tadi lumayan ngomong apalagi di akademi pas nerangin tempat sih' pikirku.

"Kakak lagi marah?" tanya ku lagi.

Langkah nya terhenti, menatap ke diriku lagi. aku bisa menangkap rasa rindu di tatapan itu. 'rasanya aku pernah bertemu dengan nya, tapi dimana?'. kurasa otakku tidak bisa diajak kerja sama akan hal ini. ingatan ku sangat buruk.

Situasi semakin canggung, aku langsung memutuskan kontak mata.

"Kau- sudah berbicara dengan Claris?" tanya nya.

Aku mengangguk, "Tapi tidak banyak"

Kak Nicholas mencoba tersenyum, menarik diriku ke suatu tempat. Saat tangan kami bersentuhan ada rasa yang aneh. Seperti bukan pertama kali? Tangannya yang kokoh itu menyelimuti tanganku yang mungil.

Dia melepas gengaman nya saat kami sampai di taman. Sunyi, aku dapat mendengar suara air yang bergemericik di dekat sini.

Bersambung....

Hasil gabut author

Tara : "Pengen buat cerita jadi protagonis :")"

Diana : "Buat aja kelees"

Tara : "Sad ending baru tahu rasa lo!"

Diana :" Lah kok gue di marahin?"

Tara :" ketemu dengan emak psikopat lo gimana?" *menawarkan*

Diana: " emak gue nggak psikopat "

Tara : "Mau ketemuan ama dia?"

Diana : "ketemuan? Emang bisa?"

Tara : *mencatat* 'hehehe'

Tertanda Tara Myria🌷

Gue ? Antagonis?! ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang