3. kebingungan

12.7K 1.2K 22
                                        


Semua sangat membingungkan. Haa....

Padahal aku berpikir bisa bebas tapi yang ada malah makin malang.
huuu...

Apa yang salah ya?

Apa karena aku kabur?

Aku menggelengkan kepala "Tidak mungkin".

Awalnya aku masuk ke gerobak umpan sapi, tapi entah mengapa orang yang mengantarkannya mati, tapi, bukannya kalau gerobak itu hancur setidaknya aku bisa tahu, ya kali ada orang yang nggak sadar kalau keretanya mau ancur lalu kecebur ke sungai lagi. Selain itu, aku juga basah basahan. ini aneh.

Aku menghela nafas dengan kasar.

Walau aku berakting yang bisa di katakan sebuah keberuntungan yang beruntun dengan meneriakan 'ayah' aku langsung di anggap sebagai anak dari pak kusir yang sudah meninggal itu.

Sayangnya, aku sepertinya sudah menggunakan semua keberuntungan ku saat kejadian itu,

buktinya sekarang aku ada masalah baru, seorang cowo manis yang masih belia adalah psikopat, aku takut nya dia curiga dengan tingkah laku aku yang cukup absurd atau mendadak berlari seperti itu. Apalagi psikopat biasanya paling sensitif dalam hal menjaga kerahasiaan, apalagi kalau dia adalah psikopat yang suka membunuh.

Aku mengangguk akan pemikiran ku yang satu ini, aku dilema, tindakan apa yang harus aku lakukan berikutnya. Aku melihat Apollo yang tidur dengan nyenyak sambil memelukku. Dia terlihat nyaman dan damai, tidak seperti diriku yang kalang kabut karena pemikiran ini.

Aku menghela nafas sekali lagi.

Lebih baik aku bersikap biasa saja. Aku akan berusaha, aku teguhkan diriku sendiri untuk menghadapi psikopat cilik itu.

Aku membaringkan diriku di dekat Apollo dan memeluk Apollo. Rasanya kalau tidur berpelukan akan membuat diriku merasa nyaman dan damai.

Tak berapa lama mentari mulai menyinari tubuh ku, sinarnya yang hangat? Tapi lebih ke panas sih, membuat diriku bangun.

Aku membuka mata ku dengan perlahan, ku lihat di depan mata ku ada wajah Gill yang tersenyum

"Selamat pagi, Diana"

Huh...apa tidak ada orang lain yang bisa membangunkan ku selain dia?

Tapi aku tersenyum "Pagi, Kak Gill" sambil mengucek mata.

Malaikat maut sudah menjemputku.

"Tidur mu nyenyak?"

Aku mengangguk.

"Bagaimana kalau sarapan dulu?"

Aku berhenti bergerak, berpikir, ini aneh pasti ada sesuatu.

"Aku mau tidur lagi" ujar ku untuk menghindar dari malaikat maut.

"Nanti kamu nggak dapat makanan "

"Tapi~, elak ku yang masih nggak mau bergerak.

"Ayoo" ujar kak Gill dengan senyuman maut nan manisnya. Keindahan apa yang kau dustakan. Sayang banget dia psikopat.

Aku membalas senyumannya dan bergerak, meninggalkan Apollo bersama kasur yang posesif.

Aku pergi dengan Kak Gill sebagai petunjuk jalan, dan aku mandi, lalu makan. Saat makan, kami semua mendengarkan suara tangisan Apollo. Mau bagaimana lagi aku harus menjemputnya tapi di temani oleh Kak Gill. Ha...kenapa dia juga nempel ke aku sih?! Apa dia curiga? Aku sudah bersikap seperti orang normal kan?

"Diana"

"I-iya?"

"Semalam, saat kau terjatuh, apa itu karena terkejut?"

Gue ? Antagonis?! ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang