Bab 21. Lembut cuyy

4K 564 15
                                        


Selamat sore/ malam/ pagi/ siang?


Aku memandang sekitar, bingung mau bagaimana.

Main jalan aja atau balik?

Sama sama gelap sih.

Lebih baik, balik aja deh, kalau sesat...

Aku menggelengkan kepala, tidak ingin berpikir kemungkinan yang buruk.

Aku pun berjalan kembali, menemukan pintu yang isinya ibu dan ayah.

Setelah itu barulah aku menghitung satu demi satu obor.

Perasaan lega datang saat aku menemukan lapangan luas itu. Beberapa anak anak mulai melihat diriku dengan tajam.

Aku tidak peduli. Dengan woles nya aku berkeliling lapangan. Tidak ada satu orang pun yang berusaha mendekati diriku, tapi arah mata mereka semua tertuju kepada ku.

Di kehidupan ku yang dulu, udah sering aku alami. Ya paling karena aku termasuk anak nakal. Tapi masa bodo, SMA cuman sekali, buat drama itu biasa, bisa insaf pas kuliah wkwkwk.

Jika aku perhatikan dari tindakan mereka, entah kenapa mereka semua pada jaim jaim, sejak aku masuk. Soalnya nggak ada yang gelud disini.

Aku berjalan menuju pohon rindang satu satunya di lapangan itu, yang letaknya di sudut lapangan.

Aku duduk jongkok di bawah pohon itu dan melihat mereka semua, tempat yang sempurna.

Tidak lama kemudian seseorang dengan rambut pirang, cowo, masuk. Dia menggunakan pita seperti diriku.

Dia seperti melihat sekeliling, dan kemudian berjalan mendekati diriku.

Tatapannya yang congkak, tidak cocok dengan wajahnya yang unyu itu. Kurasa dia sepantaran dengan diriku disini.

Dia tidak mengatakan apapun, tapi hanya menatap saja.

Aku pun memandang hal lain. Dengan duduk jongkok, aku mulai mengambil daun, menyobeknya. Gabut.

"Oiiii, tidak menyangka aku bisa bertemu dengan- ehhhh??? "

Seseorang datang, dia berambut merah gelap, sepantaran dengan cowok kuning. Dia terlihat kaget.

Aku memandang cowo itu dari ujung kaki hingga ujung rambut.

"Kek anjing yang di pelihara mbok sari" ujarku dengan kecil.

Laki laki rambut merah, memandang diriku "Hai" sapa laki laki itu.

"Hi"

"Jadi kamu juga sedang memilih pelayan?"

Aku mengangguk.

"Aku Joseph, panggil aja Jo"

"Diana"

"Dia teman ku, He- aww awwww" Jo di cubit oleh teman nya.

"Robert" ujar cowo rambut kuning, Robert.

Mereka seperti beradu tatapan.

"Jadi kau sudah menemukan calon pelayan mu Diana?" tanya Jo, duduk di sebelahku.

Aku menggeleng.

Jo mengangguk kepala, seolah dia mengerti diriku.

Kami bertiga sekarang sedang menatap anak anak yang lain. Berharap ada salah satu dari mereka yang membuat sebuah drama.

Jo selalu mengoceh, tidak tertarik dengan memilih pelayan.

Robert hanya diam, seperti orang sombong.

Gue ? Antagonis?! ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang