Bab 5. Rencana lagi

9.2K 1K 6
                                        

Ketahuan oleh seorang bocil yang saiko memanglah beda. Serasa kena sidang korupsi, banyak tekanan gitu.

Kak Gill masih tersenyum, dia menunggu jawaban ku.

Dan aku..mau mati rasanyaaa...

"Kak, ini kan baru bikin es krim, kakak nggak mau es krim?" ajak ku, memang diriku sudah cocok jadi koruptor.

Kak Gill bingung "Es krim?"

Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah Yang Maha Kuasa, akhirnyaaa aku punya alasaaaannnnn. Yuhuuuu~

Dengan senyum aku menyodorkan eskrim yang ada di mangkok, "Mau coba?"

Dengan ragu ragu, Kak Gill memakan es krim buatan aku,

Wajah Kak Gill terlihat bingung, nggak tahu enak apa enggak. Bukan salah pembuatnya kalau es krimnya nggak enak.

Serasa master chef indonesia, yang ngenilai itu chef juna aka Kak Gill.

"Lumayan" ujar Kak Gill.

Tentunya aku tersenyum lebar atas pujian itu. Yang buat kan akuuu. Puji aku pujiii.

"Bagaimana kau menggunakan sihirnya?" ujar Kak Gill penasaran.

Aku dengan berbangga hati hampir saja ingin menjelaskan cara menggunakan sihir,

"Diana? Bagaimana kamu membuatnya?" ujar Kak Gill.

Mati aku. Dia benar benar bisa berpikir cara membuat aku buka mulut. Memang saiko itu bedaaa.

Aku tidak boleh kehilangan akal, tapi gimana?

Banyak kemungkinan yang bisa terjadi.

"Diana?"

"Ah?! Iya Kak? "

"Bagaimana caramu melakukannya?"

"Hmmm...itu apa...itu...

Ahhh gimana ni???

"DIANA!!! APOLLO NANGISSS" teriak seseorang

"PUJI SYUKUR!!" teriak ku

Eh?

Aku langsung melihat ke arah Kak Gill dan tentunya dia tersenyum.

Yah, aku ketahuan.

Tanpa banyak bicara, aku langsung membawa es krim dan pergi dari tempat itu, menuju ke tempat Apollo.

Aku bisa mendengar tangisannya. Saat aku membuka pintu, aku melihat Ibu Maria dan beberapa anak anak panti sedang mencoba menenangkan Apollo.

"Apollo" ujarku.

Apollo yang mendengar suaraku langsung berlari ke arahku dan memelukku.

"Diana, jangan tinggalin aku" ujar Apollo di sela sela tangisannya.

Aku dapat merasakan bahwa Apollo benar benar ketakutan. Padahal, yang bisa mati itu aku bukan dia. Ha...

Aku dengan lembut mengelus ngelus kepala Apollo.

"Itu apa?" ujar Apollo yang melihat mangkok es krim.

"Oh ini? Makanan, mau?" tawarku

Apollo mengangguk.

Aku pun memberikan mangkok es krim itu ke Apollo.

"Diana" ujar ibu Maria yang mendekati kami berdua.

"Ah, iya bu?" jawabku

"Lain kali, kamu jangan tinggalkan adikmu untuk sementara waktu" sambil mengelus kepala ku, ibu Maria pergi dengan senyuman.

Gue ? Antagonis?! ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang