Hola HILERS! Welcome back to another part of HIL. Terimakasih sudah klik cerita ini. Terimakasih juga untuk yang selalu muncul dan yang kemarin baru muncul. Jangan lupa vote dan komen. I love you 30.000!
***
Sehun's Apartment - Gedebage, East Bandung
Hari berikutnya Sera sudah mendingan berkat rekomendasi skin to skin Risa. Meski saat bangun keduanya jadi salah tingkah. Bahkan Sera tak mengatakan apapun dan langsung pergi ke kamar mandi dengan selimut yang menggulung seluruh tubuhnya. Pagi tadi adalah momen ter-awkward selama kehidupan rumah tangga mereka.
Entah ini berkat ajakan Sehun kemarin atau bukan, sekarang Sera sudah mau keluar dari kamar. Pergi ke dapur, menonton TV, dan diam di balkon untuk sekedar menghirup udara luar. Namun yang jelas gerak-geriknya saat ini terlihat seperti menghindar dari sang suami.
Contoh, setelah keluar dari kamar mandi dan Sehun masih berdiam diri di kasur, ia langsung melesat pergi ke dapur. Beberapa saat setelah ia menuang air minum, Sehun datang, ia pergi ke ruang TV sambil membawa dua lembar roti gandum. Mengurungkan niat membuat toast dengan daging panggang.
Namun ternyata Sehun lebih pintar, dia panggil istrinya. Mengingatkan Sera tentang minum obat dan menambah sarapan supaya tak sekedar melahap roti. Tetap bersikap baik seperti hari-hari sebelumnya. Sehun betulan bertindak layaknya suami meski perkataannya kadang kala membuat Sera jadi darah tinggi.
Setelahnya, Sera kembali ke kamar dan berdiam diri di balkon. Untung Sehun tak mengikuti. Pria itu memilih masuk kamar mandi dan berkutat di meja kerja. Hingga siang ini, keduanya belum membangun percakapan lagi selain menawarkan makan dan minum obat.
Dalam kesendiriannya, Sera merenung dan meratapi apa-apa saja yang telah terjadi pada dirinya. Sesak rasanya. Ia merasa tak ingin lagi hidup. Semua yang pernah dialami beberapa tahun silam betulan membuat ruhnya frustasi.
Dulu, saat pertama kali mengalami kejadian itu, Sera sempat melakukan percobaan. Menenangkan dirinya dengan cara menghilang dari dunia. Tapi Brian dan Chandra berhasil membawa kembali dirinya. Padahal saat itu ia sudah senang. Tak sadarkan diri dan sesuatu seperti akan lepas dari raganya.
Andai dua pengawal hidup Sera tak menariknya. Mungkin ia sudah tenang dan tak akan lagi menerima hal yang sama. Dengan alasan itu lah, kemarin ia menolak kedua tamu melalui alibi tak ingin ditengok oleh siapapun. Sebab ia ingin mencobanya lagi.
Sera kira kali ini ia bisa melancarkan aksi. Berulang ia menyiksa diri. Tapi selalu saja Sehun temui raganya sebelum malaikat mencabut rohnya. Mungkin ia harus mencoba metode yang lebih instan. Overdosis atau menusuk tepat di jantung misalnya.
Suara panggilan Sehun merenggut lamunan Sera.
"Kenapa diluar? Masuk angin lagi entar." Sehun datang dengan sepiring buah yang sudah dikupas dan dipotong menjadi beberapa bagian.
Tak menjawab penuturan, helaan nafas dari sang istri membuat Sehun mendekat lagi. Mengambil posisi untuk duduk di kursi sebelah Sera. Menyodorkan buah beserta garpu.
"Kalau sakit tuh bilang. Jadi kemarin ga ada kejadian demam tambah parah."
Rentetan kalimat dan nada bicara Sehun betulan membuat Sera sebal. Pria itu selalu berubah-ubah. Kadang tegas, lemah lembut, baik, sarkastik, sinis, dan menyebalkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Husband in Law
FanfictionMelalui dalih persahabatan dua pria paruh baya, akhirnya terjadi ijab kabul yang menciptakan hubungan tak di inginkan antara dua manusia. Mulai saat ini Serayunika Haditama mau tak mau harus hidup sebagai istri dari Sehun Adimasta. Karena bagi Sera...
