04. Kerja Kerja Kerja

543 162 95
                                        

Hola! Disclaimer dulu, di cerita ini akan ada banyak nama nantinya. Tapi pemeran yang bakal muncul di banyak part atau dirasa penting pasti akan aku kenalkan diujung cerita.

Okay tanpa lama-lama. Selamat membaca wahai manusia. Semoga suka, jangan lupa vote comment untuk Sehun Sera. Kamsahamnidaaaa~

***

Sera and Sehun's House - Dago, North Bandung

Bandung sedang dilanda hujan deras sekarang. Membuat kebanyakan orang ingin malas-malasan, menyelimuti diri dan berbaring dikasur, termasuk Sera dan Sehun. Rumah nuansa putih abu itu masih sepi sunyi. Membiarkan gemericik air hujan di luar mendominasi, berikut kilat dan suara gemuruh petir melengkapi orkestra musik pagi ini.

Sera : Ka, hari ini gue work from home. Disini ujan petir kilat gede banget, gue ga bisa ke sana. Lo tau kan?

Selepas sholat subuh dan mengirim pesan pada Raka selaku Sekretarisnya, Sera malah kembali ke kasur dan melebarkan selimut hingga menutup kepala.

Faktanya Sera adalah orang yang takut dengan gerumuh, kilat, dan petir. Trauma membuatnya takut. Dulu sekali waktu itu, Sera sedang duduk di kursi café menikmati secangkir mocha esspreso panas karena diluar sedang hujan deras. Belum lagi kilat petir menyambar berikut suara gemuruh pun ikut hadir. Di seberang jalan tempatnya diam ada orang yang sedang berdiri dibawah pohon. Sayangnya takdir tidak mengenakkan datang, perempuan yang mungkin sedang berteduh itu tersambar petir.

Sejak kejadian itu Sera tak berani sendirian diluar ruangan atau jalan jika sedang hujan lebat datang bersama temannya. Ia lebih memilih untuk diam meskipun sedang buru-buru atau ada dalam keadaan mendesak.

Sementara di lantai dasar, Sehun yang sedari tadi berselimut diri terpaksa harus bangun dari kenyamanan dan kehangatan. Kemalasannya terbunuh oleh ingatan tumpukan dokumen yang berjejer di meja kerja. Ia juga baru ingat bahwa hari ini ada pertemuan penting dengan pihak pabrik genteng untuk proyek perumahannya.

"Tumben." Sehun bergumam ketika melihat dapur yang sepi. Biasanya jam segini sudah ada Sera, duduk di pantry atau sedang berdiri di depan kulkas.

---

"Halo ra? Kamu masih di rumah?" Suara laki-laki di telfon Sera terdengar jelas karena mode loudspeaker. Ia sedang ada di kamar mandi. Perutnya melilit tapi tak ingin mengeluarkan sampah apapun.

"Masih. Kayanya aku work from home." Jawab Sera sambil duduk memegang perut diatas kloset.

"Yaudah, aku jemput ya? Jangan WFH. Hari ini kan ada rapat direksi." Katanya mengingatkan Sera.

"Hujan kilat petir, Chan. Jangan, takut ada apa-apa." Larang Sera. Ia masih sering menolak atau melarang-larang jika situasi diluar sedang seperti sekarang. "Ga apa apa Rara. Aku hati-hati." Ujar Chandra menenangkan. Lelaki itu tahu bagaimana ketakutan Sera saat keadaan seperti ini. "Tapi-"

Chandra memotong penolakan Sera, "Raa.." Suaranya diujung telefon sana melembut. "Aku hati-hati kok. Kamu siap-siap ya? Aku berangkat sekarang."

"Yaudah. Kamu ati-ati, awas jangan ngebut." Pesan Sera pada lelaki itu.

"Iya Rara sayang. Udah ah aku tutup."

Sera putuskan sambungan telfonnya lalu bersiap mandi. Rasa magernya -malas gerak- sudah hilang karena barusan ia terpaksa beranjak dari kasur dan pergi ke toilet untuk urusan fisiologisnya yang tak jadi terpenuhi.

Satu jam kemudian suara klakson mobil terdengar. Sera turun lalu menekan remote control gerbang dan membuka pintu utama. Mobil Chandra kemudian terparkir di depan teras. "Belom siap?" Chandra datang dengan jas yang sedikit basah. Sera malah cengengesan.

Husband in LawCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang