I'm truly grateful for all your support by give this story a vote and suggestions or reactions by comment. Happy reading all. I love you 6000.
***
Sera and Sehun's House - Dago, North Bandung
Sudah satu minggu Sera bungkam, diam, dan tak 'mengurus' Sehun. Ia sedang mogok dalam perannya sebagai seorang istri. Perkataan Sehun waktu itu membuatnya jengah setengah mati.
Satu minggu itu pula Sehun jarang tampak batang hidungnya, hanya tiga kali matanya menangkap sosok pria itu. Bahkan lima hari belakangan ia tak melihatnya sama sekali. Karena Sera yang selalu berangkat lebih pagi, pulang malam, dan langsung pergi ke kamar. Ia juga sudah jarang ke dapur.
Tok... Tok...
Terdengar suara ketukan pintu kamar dari luar. Sera yang sedang memasang contact lens berhenti sebentar. Siapa pula? Masa iya Sehun? Tapi dirumah ini hanya ada mereka berdua.
Sera bangkit dari kursi dan berjalan kearah pintu. Ketika pintu terbuka tiba-tiba saja ada badan ambruk dihadapannya. Sehun jatuh terkapar tak sadarkan diri.
"Sehun!"
Sera berjongkok, membalikkan tubuh Sehun, dan menepuk pipinya. Pipinya panas, wajah pucat berkeringat berikut badannya, bibir pun terlihat sangat kering. Ia tempelkan telapak tangannya pada kening dan leher Sehun.
"Hun, Sehun!" Panggilnya sambil menggoyangkan tubuh pria itu.
Sera berdecak, ia jadi panik sendiri. Kenapa pula dia harus pingsan di depannya. Pakai acara sakit segala. Kalau begini ia bisa repot.
Tak merespon tepukannya, akhirnya Sera menggusur Sehun masuk ke kamar. Setidaknya dia berbaring di karpet kamar. Ia kemudian memberi batal pada kepala Sehun. Setelah itu mengambil ponsel untuk melakukan panggilan.
"Ka, lo masih dimana?" Begitu kalimat pertama yang terucap tatkala panggilan telfon diangkat.
"Pertigaan rumah lo, tinggal belok ini. Dikit lagi."
"Oke, cepet ya. Si Sehun pingsan nih, gue ga bisa ngangkatnya."
Bukan, bukan tak bisa, tapi Sera terlalu malas mengangkatnya. Lagian pria itu memang berat juga. Jadi agak sulit untuk memindahkannya ke tempat tidur.
"Hah?"
"Udah buruan pokoknya."
Tak lama dari sana bunyi bel rumah terdengar, Raka sudah datang. Begitu masuk, Sera langsung meminta Raka naik keatas menuju kamarnya.
"Kenapa bisa pingsan begini? Sakit?" Tanya Raka saat melihat Sehun terkapar di karpet.
Sera mengangguk.
Ia mau tak mau meminta Raka memindahkan Sehun ke kasur miliknya. Sebab akan tambah repot jika Raka tahu dirinya pisah kamar dengan sang suami. Pria itu adalah salah satu mata-mata Giantra.
"Panas banget badannya, Ra. Lo yakin mau ngantor?"
Sera jadi sedikit menimbang perkataan sekretarisnya. Dia bukan sedang berpikir soal tak jadi masuk kantor, tapi ia sedang menimang apakah akan aneh kalau dirinya bersi kukuh ke kantor sekarang. Masa iya suami sakit ia tinggalkan?
"Entar kalau sempet, gue bakal ke kantor."
Dirinya pasti akan ke kantor bagaimana pun.
"Oh iya, thanks berkasnya. Sorry ya lo diganggu lagi libur gini."
"Santai kali, lagian berkasnya juga dirumah gue."
"Lo ga apa-apa ngurusin dia sendirian?" Tanya Raka sambil menatap Sehun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Husband in Law
FanfictionMelalui dalih persahabatan dua pria paruh baya, akhirnya terjadi ijab kabul yang menciptakan hubungan tak di inginkan antara dua manusia. Mulai saat ini Serayunika Haditama mau tak mau harus hidup sebagai istri dari Sehun Adimasta. Karena bagi Sera...
