The (Secret) Fact

288 44 78
                                        

Hola HILERS! Cie udah 13K reads, nih. Terimakasih yang sudah baca dan support cerita biasa ini.

Siapa yang naik darah pas baca part kemarin? Hayo ngaku? Hehe. Sekarang kita flashback sebentar dulu, yuk? Ada yang mau aku kasih tau, nih. Check this story out!

***

Sera and Sehun's House - Dago, North Bandung

Ada beberapa hal yang berubah dalam kehidupan rumah tangga Sera dan Sehun. Sikap acuh tak acuh keduanya terhadap satu sama lain sudah bergeser sedikit demi sedikit. Mereka jadi lebih respek dan saling mengerti.

Entah karena seiring dengan berjalannya waktu dan peristiwa-peristiwa didalamnya, atau mungkin memang keduanya sudah berhasil menghancurkan benteng pertahanan masing-masing. Yang jelas, baik Sera pun Sehun setuju tanpa saling tahu bahwa mereka mulai terbuka dan menerima.

Namun Sera tak mau terlihat kentara akan perubahannya. Maka terkadang ia selalu acuh dan berdebat dengan Sehun tentang sesuatu sekalipun itu adalah hal kecil.

Sera hanya tak mau jatuh terlalu dalam. Ia tak ingin kembali terjerat dalam perasaan yang bisa membuatnya diterpa badai suatu waktu. Sebab ia tahu akan bagaimana ujungnya badai itu. Reda setelah semuanya menjadi rusak.

Ia sendiri tak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan perasaan ini. Padahal dua tahu silam otak dan hati sudah bertekad untuk hidup tanpa bunga asmara. Nyatanya ia tak bisa menghindar dari perasaan yang sudah lama tak muncul kepermukaan. Apa ini kehendak Tuhan?

"Bengong terus? Mikirin apa?" vokal Sehun memecah lamunan Sera.

Gadis itu tak menjawab. Dia hanya terus memandang kolam renang. Sesekali tatapan kosong itu bergerak ke lain arah.

"What's on you mind, darling? Tell me." desak pria berkaos hitam yang kini ikut duduk tepat disebelah sang istri.

Sera berdecak. Ia beralih pandang pada suaminya. "Kenapa sih suka banget memanggil pake kata-kata itu?" ia merujuk pada panggilan yang selalu Sehun sematkan pada kalimatnya. Apa lagi kalau bukan sayang, darling, honey, dan teman sejawat mereka.

"Kata-kata apa?"

Pura-pura bodoh dan tidak tahu. Sehun senang melakukan itu. Bercanda soal ini dengan Sera merupakan sesuatu yang menyenangkan untuknya. Dan yang pasti ini ia lakukan supaya Sera bisa lebih blak-blakan.

"Yang tadi."

"Yang mana?"

"Ck! Tau, ah!" Sera palingkan lagi wajahnya. Sebal dengan kepura-puraan pria yang sekarang punya rambut lebih panjang dari biasanya.

"Yah ngambek." keluh Sehun lalu tertawa kecil. "Jangan ngambek dong, nanti kamu keliatan makin sexy. Aku jadi gak tahan." bisiknya tepat ditelinga Sera.

"Apa, sih!" lantas Sera mengambil posisi mundur.

Sehun terkekeh. "Bercanda sayang. Soalnya kamu lucu banget kalau lagi ngambekan gitu. Bawaannya pengen aku kunciin di kamar berdua."

Dan benar, bersama mata yang membulat sikap anarkis gadis itu keluar. Sehun mengaduh sesaat setelah merampungkan perkataan.

"Sakit, Yang. Kamu seneng banget sih mukul aku?" masih saja Sehun menyematkan panggilan yang Sera sasar.

"Makanya ngomongnya jangan ngelantur!" kata Sera galak.

Sehun mengangkat satu alis. "Ngelantur dari mana? Emang bener, kok. Aku jadi gemes kalau kamu misuh-misuh gitu." seraya perkataannya ia cubit gemas hidung sang istri.

"Jangan dicubit!" Sera pukul telapak kanan Sehun yang mencapit indra penciumannya.

Sehun melebarkan senyum. Ia betah memandangi Sera yang rambutnya sedang digerai. "Kalau nanya tuh coba pake kalimat yang lengkap. Aku suka manggil pake kata-kata yang mana? Rara?"

Husband in LawTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang