Datang Minta Saran

353 72 98
                                        

Satu dua tiga, tekan bintang semuanya. Jangan lupa komen juga. Yuk?

***

Sera and Sehun's House - Dago, North Bandung

Sehun bangun kesiangan hari ini. Tumben sekali, biasanya Sera rajin membangunkan. Ah iya, dia lupa kalau tiga hari lalu sudah bertikai sampai melukai tangan sendiri dan kaki sang istri.

Ia jadi tiba-tiba melow karena tak lagi dibangunkan Sera dengan cara yang unik dan tekesan mengesalkan. Tapi, justru itu yang membuatnya jadi bangun dipagi hari. Ia juga sudah terbiasa dengan itu. Aduh aduh ada apa dengan Sehun ini?

Dia tak melihat Sera yang biasanya ada di dapur. Sarapan dan makan malam pasti sudah tersedia saat dirinya akan pergi dan pulang kerja. Tuh kan, Sera masih saja baik padanya. Ia tetap melakukan kewajiban sebagai seorang istri meski sedang terlibat pertengkaran. Mungkin karena takut Sehun pingsan lagi didepan kamarnya seperti waktu pertengkaran waktu itu.

Setelah siap berangkat, Sehun menemukan note di depan pintu kamar lagi. Isinya sama seperti kemarin-kemarin, informasi kalau menu sarapan pagi ini hanya roti dan selai. Jika dia ingin kopi Sera sudah menyeduhkannya dan tinggal dituang ke cangkir. Coba lihat? Sudah sebaik apa gadis itu?

Sehun malah menghembuskan nafas berat. Pikirannya yang masih kacau bercampur aduk dengan perasaan kesal. Ia remas kertas persegi itu dan membuangnya ke tong sampah.

Adimasta Building - Ciumbuleuit, North Bandung

"Nis, tolong belikan saya ketoprak ya." pinta Sehun saat berjalan masuk ke ruangannya.

Di rumah, Sehun tak sentuh sedikitpun roti atau kopi yang Sera buat. Ia masih kesal dan marah. Padahal kalau dipikir-pikir ia tak perlu seemosi ini. Terbayang jika begini saja taraf emosinya sudah membeludak, bagaimana Sera yang melihatnya bergulat panas dengan Gisel tepat di depan mata?

Tapi Sehun tak pernah berpandangan kearah sana. Yang ia garis bawahi adalah apa yang dilakukan Sera tetaplah lebih kekanak-kanakan. Permainan balas dendam gadis itu betulan seperti anak remaja labil.

Dokumen demi dokumen Sehun cek dan tanda tangani. Pertemuan demi pertemuan dia hadiri. Setiap presentasi dia dengarkan dengan seksama. Namun fokusnya tak pernah bertahan lama. Selang 10 menit dia pasti sudah terhanyut dalam lamunan. Hari ini Nissa sering sekali menyadarkannya dari kosong pikiran.

Jam makan siang akhirnya tiba bersamaan dengan pikiran Sehun yang masih terus melanglang buana pada nama istrinya. Serayunika Haditama. Dia baru tahu kalau efek gadis itu akan semelekat ini diotaknya.

Sekarang dirinya butuh para manusia setengah setan untuk berkeluh kesah dan merancang strategi pembicaraan dengan Sera nanti. Biar dia tak dikalahkan lagi secara telak seperti kemarin. Ternyata dalam keadaan begini dia masih saja memperhitungkan menang kalah.

Beruntung pula hari ini Gisel tak mengganggunya. Ah iya, Sehun lupa ini hari Kamis. Gisel pasti sedang sibuk dengan syuting talkshow nya itu. Tapi akhir-akhir ini wanitanya memang jarang menghubungi. Ya sudahlah, lagi pula dia juga sama sibuknya.

Cepat-cepat Sehun meninggalkan gedung kekuasaan. Dia juga sudah menghubungi Banyu dan Juan untuk datang ke tempat Kai. Alasan kenapa dia bicara soal ini di kantor Kai adalah karena sobat bejatnya itu ada meeting dengan client penting setelah jam makan siang. Jadi tak bisa pergi jauh. Apa boleh buat, memang dia yang sedang butuh.

Husband in LawCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang