Salah Kira, Sialan!

305 49 81
                                        

Hola HILERS sayang! Udah ada gurat-gurat emosi belum setelah liat judulnya? Yuk monggo disimak baik-baik bacaannya supaya lebih menjiwai. Terimakasih untuk 12K readsnya. Terimakasih kepada kalian yang udah menghargai karya gue. Salam sayang dari Sera dan Sehun buat kalian.

[WARNING 17+ kata-kata kasar]

***

Sera and Sehun's House - Dago, North Bandung

"Jangan lupa nanti malem." Sehun mengingatkan.

Sera menjawab malas. "Hmm.."

Ini pertama kalinya secara personal Sehun mengajak Sera untuk makan malam berdua diluar, di hotel pula. Awalan Sera sempat curiga dan menolak ajakan itu karena suaminya bilang ingin mencoba makan bertema  romantis bersama istri sendiri.

Sudah dapat ditebak apa alasan dibalik penolakan gadis di usia akhir 25 tahunan itu, kan?

Embel-embel romantis yang disematkan pada acara makan malam terdengar menggelikan bagi Sera. Masuk kata romantis ketelinga saja sudah membuat bulu kuduk Sera merinding. Apalagi kalau hal yang dicanangkan Sehun betulan terjadi. Pasti Sera akan terlihat aneh. Pasti.

Tapi seperti yang bisa diketahui, pria pemaksa yang keinginannya harus selalu dituruti berhasil membujuk sang istri. Bukan melalui rayuan tentu saja. Bisa-bisa dia babak belur duluan sebelum makan karena jurus jitsu Sera.

Sehun menawarkan keuntungan yang tidak cukup menggiurkan, namun patut diambil sebab siapa tahu bisa berguna di masa depan. Kalau kalau rencananya tidak berjalan mulus, Sera akan menggunakan permintaan yang nantinya akan dikabulkan Sehun tanpa ada kata menolak.

Ya begitulah Sehun sekarang. Kalau dari luar pria itu memang terlihat sudah berubah, tapi entah dalamnya.

"Kalau suami nanya atau ngajak ngobrol tuh coba dijawab yang bener, sayang." imbuhnya demikian.

Bola mata Sera berotasi bersama suara decakan. "Jawab salah, ga jawab salah. Hadeuh orang cantik kerjaan serba salah mulu."

Heran, padahal dirinya juga sudah menanggapi, tapi masih saja dikomentari.

Setelah ucapan itu, tawa Sehun terdengar jelas seisi ruangan.

"Kamu pagi-pagi udah ngelawak aja." komentar Sehun disela-sela tawa. Hormon dopaminnya langsung naik seketika hanya dengan kelakar tak sengaja sang istri. Ini entah karena selera humor Sehun yang rendah atau karena Sera yang melakukannya. Atau mungkin dua-duanya?

"Aku bukan bang Pandji atau kang Sule yang bisa ngelawak. Gak perlu ketawa." ekspresi saat bicara tadi mirip dengan salah satu stand up comedian, datar tapi lucu.

Sehun berjalan mendekati Sera. Seperti biasa, ia minta dipasangkan dasi. "Iya deh, Nyonya Adimasta." deretan gigi putih rapi milik pria jangkung dihadapan Sera masih terlihat oleh mata.

Ini kali pertama panggilan Nyonya Adimasata masuk ke indra pendengaran mereka. Jelas sekali Sera membeku untuk beberapa detik hingga akhirnya tangan lentik itu kembali bergerak dibagian leher Sehun.

Si pemanggil? Sumpah demi apapun ia tak pikir panjang dengan ucapan tadi. Spontan itu juga sempat membuat suasana hening seketika. Tapi Sehun sudah lebih dulu mengontrol mimik wajah. Lagipula tak ada yang salah dengan kata-katanya.

Sehun pikir menyematkan panggilan Nyonya Adimasta pada gadis didepannya juga terdengar menyenangkan dan membuat hatinya... bergetar.

Sehun tersenyum menatap wajah kaku Sera sekarang. Sehebat ini memang efek dari panggilan tadi? Sampai-sampai Sera tak berkutik. Sehun jadi bertekad untuk sesekali menggunakan 'Nyonya Adimasta' ketika Sera sulit diberitahu. Karena sekarang panggilan sayang sudah tidak terlalu mempan. Mungkin karena keseringan.

Husband in LawCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang