Kenapa Bisa?

373 66 228
                                        

Hola, HILERS! Terimakasih banyak, aku menghargai usaha kalian untuk vote dan komen sampai mencapai target. ❤❤❤ Here we go, the next part of HIL. Don't forget to vote and comment this story. I love you 20.000.

***

"Tumben pake baju oversize?"

Sehun melirik sedikit kearah kursi sebelah kemudi. Membuat yang dilirik membawa tatapan matanya pada sang lawan bicara.

"Lagi pengen aja." sahut gadis itu berujung kekehan.

Diselingi senyuman dan sambil memegang stir, uluran tangan kiri Sehun torehkan untuk mengacak lembut rambut kekasihnya. Siang ini ia memilih makan bersama di rumah. Itulah kenapa mereka sedang dalam perjalanan pulang.

Sesampainya di depan gerbang rumah, Porsche Taycan Turbo itu tak bisa masuk pelataran karena ada Audi Q8 yang menghalangi. Mobil siapa itu? Berhenti ditempat yang salah. Bukannya SUV putih itu bergerak saat diberi klakson, Sehun justru melihat ada orang yang berlari kearahnya dan memukul kaca pintu mobil tak sabaran dengan mimik muka emosi berbalut panik nan khawatir. Akhirnya ia turunkan kaca sebelah kemudi.

"Keluar! Kejar Sera!" pekik pria yang tempo lalu pernah kerumahnya.

Sehun menatap bingung. Tak mengerti maksud perkataan Brian yang tiba-tiba.

"Buruan keluar, bangsat!"

Apa-apaan ini? Dia saja tak mengenalnya, tiba-tiba memerintah pakai makian segala.

"Buruan, kejar Sera! Nanti gue jelasin semuanya." sentaknya lagi masih dengan pukulan di pintu mobil dan melirik ke arah depan berkali-kali.

Sehun ikuti arah pandang Brian. Memicinkan netra untuk memperjelas penglihatan. Ada pria lain disana, tengah berlari kecil sambil menoleh kebelakang. Gifar. Kenapa dia bisa ada disini?

"Anjing! Buruan, Hun. Sebelum jauh. Gue harus abisin si Gifar."

Apalagi ini? Kenapa Brian bisa mengenal mantan pacar istrinya? Tapi ia urungkan dulu semua pertanyaan diotak. Mungkin saja ada yang sedang tidak beres. Bergegas keluar mobil dan pergi mengejar Sera yang katanya sudah lari semenit lalu, panggilan Gisel ia abaikan begitu saja.

Sambil berlari kecil keluar rumah, Sehun mencoba menghubungi Sera lewat telepon. Tersambung tapi tak ada jawaban. Sekali lagi ia tekan tombol panggilan. Sayangnya yang terus menjawab hanyalah operator wanita.

Bolak-balik melihat kanan dan kiri jalan di depan rumah, ia memikirkan arah yang sekiranya telah diambil Sera. Perasaan dan logika menuntunnya mengambil langkah ke kanan. Dipikirannya daerah sana akan cukup ramai orang dan terdapat kantor polisi nanti.

Entah kenapa melihat Gifar barusan otaknya malah merujuk pada pihak berwenang. Tiba-tiba saja ingatan soal pembicaraan sekilas Banyu waktu itu dan prasangkanya tentang teror yang selama ini diterima sang istri muncul.

Sudah hampir 50 meter berusaha mengejar langkah yang ketinggalan, namun sosok yang dicari tak kunjung ditemukan. Sehun berhenti sejenak untuk menghubungi lagi ponsel gadis itu. Siapa tahu kali ini diangkat. Nihil, tetap tak ada jawaban dari panggilan itu.

Sedikit lagi menuju pertigaan, Sehun lanjutkan lagi larinya sembari mengusap kasar rambut melampiaskan frustasi. Ia jadi mendadak cemas. Semoga saja Sera ada didekat sini, jangan sampai dirinya salah ambil langkah.

Husband in LawCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang