Hola HILERS! I actually miss your comment guys. Would you mind to do that thing for me? Hehe.
***
Sera and Sehun's House - Dago, North Bandung
"RAAA." gelegar suara Sehun dari lantai satu hampir terdengar diseluruh penjuru rumah.
Sera yang sedang sibuk di kamar atas jadi mengerlingkan mata dan sebal karena dari tadi Sehun terus saja teriak memanggilnya. Bukannya menghampiri kalau butuh apa-apa. Sudah tahu sang istri sedang bunting.
"APA SIH?! GA USAH TERIAK-TERIAK TERUS!!"
"KAMU JUGA TERIAK-TERIAK, CANTIK!" balas Sehun, kali ini dia sedang menaiki tangga untuk menghampiri Sera. Lama-lama serak juga. "Yang, sushi, yuk?" ajaknya setelah bersandar dipintu kamar.
"Astaga, Hun. Kamu dari tadi teriak terus cuma karena minta sushi?"
"Cuma kamu bilang?" ulang Sehun sedikit jengkel. Akhir-akhir ini dia merasa kalau Sera selalu meremehkan keinginannya.
Mulai lagi, pikir Sera. Sudah dua minggu pria itu jadi serba sensitif. Padahal yang hamil dirinya bukan si suami.
"Mager, ah."
"Kok kamu gitu, sih?! Ayo, dong. Kamu kan tau aku pengen banget sushi dari kemarin."
Suaminya itu betulan penuntut.
"Delivery aja." Sera masih sibuk dengan pakaian-pakaian miliknya. Tak sedikit pun melirik Sehun yang sedari berbanding terbalik memperhatikan semua gerak-geriknya.
"Aku pengen sushi yang di Edelwise. Sekalian liat sunset. Ayo, dong, sayang." tatapan memelas Sehun membahas raut malas Sera ketika menatapnya kali ini.
Sekarang cuma tinggal menghitung jari siapa yang akan bertahan dan mengalah.
"Aku heran, deh, kenapa jadi kamu yang suka ngidam, sih? Aku yang hamil juga."
Sehun mengangkat sedikit bahunya tanda tak tahu. "Iya juga ya, dipikir-pikir aku yang lebih banyak maunya dibanding kamu. Bawaan bayi kayanya."
Gestur mata Sera mulai mengerling lagi. Bawaan bayi katanya, yang benar saja. "Kamu malah kebagian yang enak-enak, aku pusing mual muntah mulu." Sera duduk ditepi kasur sambil mengelus perutnya yang sudah mulai terlihat meski ia pakai baju longar.
Sehun terkekeh kecil selagi menghampiri istrinya. "Debay sayang banget sama Baba, ya?" matanya mengarah pada perut Sera, tempat dimana darah dagingnya berada.
"Kalau bisa gantian, aku mau gantiin kamu mual muntah. Serius, deh. Gak tega juga aku liat kamu kaya gitu, gak kenal pagi, siang, sore, sampe tengah malem pun..." Sehun memainkan pangkal rambut bagian depan milik Sera, mengelusnya, kemudian menyampirkan rambut panjang wanita itu kebelakang telinga.
"...tapi mual muntah kamu udah mendingan dari sebelumnya, kan?"
---
Senin.
Orang bilang hari pertama dalam hitungan minggu itu adalah yang paling buruk. Macet, sibuk, hectic, dan terkesan lebih lama dari hari-hari biasanya. Tidak terkecuali Sehun. Pria yang notabenenya sudah tak menyukai lelakon yang dia lakukan sekarang (dan dari sejak dulu) sudah pasti merasa malas.
"Aku ngambil libur kerja aja deh, yang, kayanya."
"Kenapa? Kamu capek? Sakit?" Sera ulurkan telapak kanan pada dahi dan leher Sehun untuk memastikan kondisi badan pria itu.
"Hmm.." gelengan kepala menyertai suara malas Sehun.
"Terus kenapa pengen libur?"
"Rasanya hari ini aku pengen dirumah aja sama kamu." tangan Sehun merangkul tubuh Sera yang sedang berbaring.
KAMU SEDANG MEMBACA
Husband in Law
FanfictionMelalui dalih persahabatan dua pria paruh baya, akhirnya terjadi ijab kabul yang menciptakan hubungan tak di inginkan antara dua manusia. Mulai saat ini Serayunika Haditama mau tak mau harus hidup sebagai istri dari Sehun Adimasta. Karena bagi Sera...
