Pulling The Moon, Pushing The Sun

371 73 133
                                        

Hola wahai cantik dan tampan. Selamat datang kembali di HIL. Selamat membaca, memvoting, dan berkomentar. Aku kangen emosi kalian, deh. Sumpah! Haha.

***

Soekarno-Hatta International Airport - Tanggerang, Banten

Meski keadaan kantor di Jerman jadi lebih pulih dari sebelumnya. Sera tetap saja tak bisa bernafas lega sepenuhnya. Seperti dunia yang terus berputar tanpa henti, pekerjaannya masih terus berlanjut.

Hari ini adalah hari kepulangan Sera ke Indonesia. Akhirnya bisa menghirup udara Bandung utara. Merasakan suhu dingin khas dataran tinggi ibukota provinsi. Kembali menjalini rutinitas di kota yang membesarkannya. Geografis terfavorit selama 25 tahun menjalani hidup. Namun, penuh dengan suka, duka, luka dan derita di empat tahun lalu.

Perjalan Frankfurt - Dubai - Jakarta menggunakan pesawat tipe boeing 777 dengan maskapai Emirates Airline tetap saja melelahkan bagi Sera. Ia adalah tipe orang yang tak bisa tidur dengan benar didalam transportasi meski menggunakan business class atau first class sekalipun. Disetiap penerbangan, ia pasti hanya memejamkan matanya sesekali.

Saat translit Sera hanya sempat tidur 4 jam karena pekerjaan di holding company yang sudah menumpuk banyak. Padahal waktnya di Dubai cukup panjang. Setelah sampai di Indonesia pun, ia harus membuat pantat terasa keram dan kepanasan karena jalanan padat Tanggerang-Bandung meski duduk di kursi empuk dan mahal. Sera ingin segera merebahkan diri dikasur yang nyaman.

"Pagi, Bu. Selamat datang kembali. Mau langsung ke rumah atau mampir dulu ke kantor?" tawar Vira begitu melihat sang atasan keluar dari pintu kepulangan bersama sekretaris seniornya.

"Mampir ke kantor sebentar."

"Baik, Bu. Mari."

Tama Group Building - Soetta, East Bandung

"Bu Sera?" panggil pria yang duduk di depan ruangannya.

Sera menatap heran, ia tak pernah melihat pria itu sebelumnya. "Siapa?"

"Saya Genta, reporter majalah Spill Business." katanya sambil menyodorkan kartu nama.

"Vira, saya ada jadwal ketemu reporter hari ini?"

"Hmm, engga bu. Saya juga kurang tau kenapa dia datang kesini." jawabnya dengan suara yang semakin memelan.

"Bertemu dengan saya, silahkan buat janji terlebih dahulu pada sekretaris saya." ujar Sera kemudian membuka knop pintu ruangannya.

"Mungkin ini bisa menarik perhatian Ibu." Genta mencoba mencegah tolakan Sera untuk bertemu.

Berhasil, Sera langsung membalikkan badan meski menatap datar tanpa penasaran. Gadis itu menutup kembali pintu dan berjalan ke sofa ruang tunggu yang tadi ditempati Genta.

Mengerti bahwa dirinya diberikan kesempatan, tanpa basa-basi Genta langsung menyerahkan berkas yang terbungkus. Sera menghela nafas gusar ketika melihat amplop coklat. Sudah muak dengan bentuk dan warna barang didepannya. Selama dua bulan kebelakang ia terus menerima bungkusan seperti itu bahkan ketika di Jerman.

"Mau kamu apa?" tanya Sera setelah melihat isinya.

"Saya cuma reporter, Bu." Genta lalu menyesap teh yang setengah jam lalu disajikan office boy.

Husband in LawCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang