Inggris - Indonesia

344 40 6
                                        

Hola HILERS! Terimakasih udah menunggu.

***

Sera and Sehun's House - Dago, North Bandung

"Gue udah memenuhi permintaan lo."

"...."

"That's outta my business." tepat setelah itu Sera memutuskan sambungan telepon.

Sera mencebik. Wanita yang mengikrarkan diri sebagai tunangan suaminya saat acara makan malam keluarga itu masih terus mendesak Sera.

Sera stres. Ia muak dan pengap.

Biasanya kalau ada apa-apa Brian dan Chandra akan menjadi tumpuannya. Tapi kali ini dia memilih diam.

Brian sedang sibuk dengan pekerjaan. Pria itu ada di negeri paman Sam karena joint ventur perusahaan. Sementara Chandra, si lajang yang sudah tiga tahun merana cinta lagi dimabuk asmara dan memperjuangankan seseorang yang ia yakini sebagai jodohnya. Pria itu sedang gencar. Sera tak mau ganggu.

Jadi pada siapa lagi dia akan bercerita?

Dengan terpaksa curhatannya harus terbagi pada para sahabat tidak tahu diri itu. Krystal, Joan, dan Kaila. Malah Airin jadi ikut rumpi bersama sejak pernikahan Kaisar dan Krystal akan berlangsung.

Seperti sekarang, sudah empat hari Sehun berada di London. Sudah selama itu pula Sera sendirian. Tapi rumahnya hanya sunyi ketika si penghuni tidur. Sepulang ia kerja, para wanita itu selalu merecokinya di rumah. Bahkan kemarin mereka menginap dan sampai sekarang belum juga pulang.

"Hindari kerja berlebihan dan jangan sampe stres." nasihat Joan. Padahal dirinya saja belum pernah mengalami kehamilan. Namun diantara semuanya dia yang paling cerewet soal yang satu ini.

Wajar, kakaknya pernah keguguran. Jadi Joan begitu khawatir pada ibu hamil.

"Iya, ibu kos." Sera membalas dengan ledekan baru yang disematkan untuk Joan.

Selagi berbincang ringan seputar lingkungan kerja Kaila di projek pemotretannya yang baru, satu ponsel berdering nyaring.

"Angkat, Ra." suruh Kaila.

Tapi Sera menolak mentah-mentah. Pasalnya sambungan yang masuk adalah video call dari kontak bernama Sehun Adimasta Buildings. Iya, bukan suamiku, my husband, atau panggilan romantis semacam itu, apalagi pakai emoticon. Sera menamai kontak suaminya menggunakan nama lengkap dan nama perusahaan. Seperti kotak untik para rekan kerja.

"Yailah buruaaaan!" Kaila gemas dengan gengsi sahabatnya yang kelewat mampus.

Sera mengabaikan ucapan Kaila dan memilih untuk berbaring di sofa. Akhir-akhir ini punggungnya sering sakit dan pegal.

"Ra, suami loh ini." tiba-tiba saja perkataan Airin menohok Sera begitu dalam.

"Tuh dengerin!" Joan ikut komentar.

"Cepet mumpung masih nyambung."

Baru saja dirinya akan mengambil ponsel, sambungan video call itu putus.

Sera terlalu lama.

"Tuh kan! Lo sih lama." Kaila sewot.

Meski Kaila adalah orang yang paling menggebu-gebu ketika tahu perihal rumah tangga Sera. Ia tak mau kalau sahabatnya sampai menjanda ketika berbadan dua. Ia tak sudi. Apalagi Sehun adalah sahabat abangnya. Kaila merasa punya beban tersendiri.

"Ck! Dianya aja yang gak sabaran." defensif Sera tak mau disalahkan. Ia justru sebal karena mengorbankan rasa nyaman punggungnya tadi.

"Lo yang lama bege. Itu udah dering dari tadi."

Husband in LawTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang