Pertanyaan

239 21 2
                                        

Hola Hilers! Enjoy reading. Hope you like it.

***

CFO Room, Tama Group Building - Soetta Road, East Bandung

"Urusan kita belum selesai."

Helaan nafas berat keluar dari indra penciuman Sera. Bagaimana tidak, ia sudah muak dengan wanita yang berdiri di depan meja kebesarannya.

"Gue gak ada urusan lagi sama lo. Sesuai perjanjian yang lo buat juga, pilihan dia diatas segalanya. And he choose me."

"Bangsat! Lo pasti yang intimidasi dia!"

Sera mengerlingkan mata. "Terserah lo mau ngomong apa. Sekarang keluar dari ruangan gue." tak mau berdebat dan membuang waktu ia memilih untuk menyudahi obrolan tak penting Gisel.

"Dia cintanya sama gue, bukan lo!" argumen Gisel lagi dan lagi. Wanita yang sama buncitnya itu terus membuat pembelaan yang sayangnya sia-sia. Bukannya persiapan untuk melahirkan, wanita itu malah berkeliaran.

Sera tak akan pernah mau terbawa emosi. Lagi pula tak bagus untuk kandungannya sekarang. "Kalau lo masih penasaran tanya aja langsung sama dia."

"Oh! Atau..." Gisel menjeda ucapan dan langsung menampakkan senyum picik. "Justru lo yang bakal mati penasaran..." kalimat Gisel belum usai, ia sengaja ingin menjeda seriap kalimatnya.

"Kamar dekat tangga..."

"...gak nyoba buat gali soal itu?"

"Atau gak ada nyali?"

Setiap ucapan yang keluar dari mulut Gisel menyiratkan rasa kemenangan. Sunggingkan dibibir pun masih awet bahkan lebih lebar saking senangnya telah menekan dan menjatuhkan Sera.

Sebab wajah direktur keuangan yang sedang hamil itu cukup pasi. Tak ada balasan yang biasa Gisel dengar. Sera membeku ditempat sampai Gisel keluar dari ruangan.

Hhh

Hembusan nafas yang tertahan akhirnya bisa keluar beberapa saat kemudian. Kali ini dia kalah. Kenapa bisa? Padahal biasanya Gisel akan pulang dengan amarah yang lebih besar dari saat dia datang ke kantor Sera.

Sera segera mengambil gelas kaca yang ada dihadapan dan meneguk air hingga tandas. Ia pening tiba-tiba, kepala bagian depan sakit seperti tertimpa besi. Jika sedang begini biasanya dia langsung mengambil dan menegak aspirin. Tapi saat kontrol kemarin dokter menyarankan untuk tidak dulu meminum obat pereda nyeri itu.

___

Sehun's Apartment - Gedebage, East Bandung

Menginjak usia kandungan Sera yang lebih tua, Sehun memutuskan untuk pindah sementara. Lebih dekat dengan kantor dan rumah sakit yang biasa mereka datangi untuk check up kehamilan.

"Sayang, lusa kamu janjian jam berapa sama dokter Darin?"

"..."

"Rara sayang?"

Sera terkesiap saat tangan Sehun menyentuh pundaknya. Ia termenung. Tiga hari belakangan, setelah kedatangan Gisel ke kantor pikiran Sera kerap melayang entah kemana. Seolah ingin berpikir tapi isi pikiran itu kosong.

"Ngelamun lagi?" tanya Sehun seraya duduk disamping Sera.

"Maaf. Tadi kamu tanya apa?"

"Sama dokter Darin janjian jam berapa?" ulang Sehun sambil menyisir rambut Sera dan mengelus kepalanya dengan tangan.

"Sore." jawab Sera singkat. Tak ada lagi perkataan lain.

"Kamu akhir-akhir ini ngelamun terus. Ada apa?" Sehun berusaha membuka obrolan.

Husband in LawCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang