Pertemuan Tiga Manusia

414 66 168
                                        

Hola, HILERS! Welcome back to another part of this story. Vote komen makin surut, nih. Udah pada bosen, ya? Mau challenge kalian aja kalau gitu, aku akan update lagi kalau vote udah mencapai 30 dan komen 100. Kalau udah nyampe segitu, tanpa nunggu hari sabtu aku akan langsung up. So, jangan lupa vote dan komen Semangat!!

[WARNING 18+ Adegan Kekerasan]

***

Sera and Sehun's House - Dago, North Bandung

Baru saja menutup pintu utama, suara bel berbunyi. Sera melenggang masuk ke ruang tamu dan melihat siapa yang datang lewat interkom. Ia langsung merotasikan mata begitu tahu orangnya. Kenapa lagi pria itu datang? Apa dia tidak bosan?

Bel kembali berbunyi tak sabaran. Sampai Gifar mengatakan bahwa dirinya tahu jika Sera ada di rumah dan sedang melihatnya lewat interkom. Otomatis Sera terkejut bukan main. Dari mana pria itu tahu?

"Liat guci di meja sebelah lo." perintah Gifar padanya.

Tanpa sadar Sera langsung melirik guci yang dimaksud, sontak ia mundurkan posisi dan terjatuh. Kakinya lemas setengah mati saat melihat ada kamera kecil yang tertempel dibelakang guci itu.

"Buka dulu. Gue ga bakal ngapa-ngapain lo." bicaranya lagi.

"You're such a psychopath." ujar Sera pelan.

"Buka gerbangnya atau gue yang buka sendiri."

Apa maksudnya? Apa lagi yang sudah diperbuat pria brengsek itu?

"Gue punya remote control gerbang lo." ucapnya santai diluar sana.

Astaga, sial! Sera terus memaki dalam hati. Merutuki kenapa dirinya bisa kenal dan pernah cinta pada sosok monster. Ia juga suka berbuat jahat dan menyeramkan, tapi tak seekstrim Gifar.

Sendiri dirumah, Sera jadi tambah khawatir. Ia takut Gifar akan lebih macam-macam. Sera yang masih terduduk dilantai sudah terlalu lemas untuk sekedar bergerak. Apalagi bangkit dari sana.

Sial, ponselnya tersimpan di meja kerja kamar. Kalau saja benda elektronik itu bisa terbang menghampiri, ia sudah menelfon siapa saja bahkan polisi untuk meminta datang. Sayangnya, teknologi belum secanggih yang ia harapkan.

"Gue hitung sampe tiga. Kalau lo ga buka pintu gerbang, sorry to say i have to punish you, Serayunika Haditama."

Sera jadi mendadak beku. Ia seolah tak bisa bergerak dan berbuat apa-apa. Ternyata ketakutan itu datang kembali. Rasanya ingin sekali menangis ketika Gifar mulai menghitung dan terdengar suara gerbang terbuka. Chandra benar, pria itu betulan nekat. Harusnya ia tak membiarkan Gifar berbuat semaunya.

Tak lama dari sana, pintu rumah juga terbuka lebar. Sosok jangkung dengan mata sipit dan tatapan tajam mulai mendekati Sera yang masih diam diposisi yang sama.

Mulut Sera sekaku tubuhnya. Ia tak bisa mengucapkan apa yang ada dipikirkannya. Malah air mata tak terbendung dan keringat dingin di raga yang keluar mewakili gadis itu.

"Kok malah nangis?" ujar Gifar lembut namun terdengar mengerikan.

Mantan kekasih itu sudah berjongkok tepat didepannya. Menghapus aliran air yang turun dipipi Sera. "Jangan takut, Nika. Aku masih Gifar yang dulu, yang sayang sama kamu."

Husband in LawCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang