Hola HILERS sayang, aku ucapkan terimakasih karena sudah support HIL lewat vote dan komen kalian.
Udah mau tiga minggu tapi vote stuck di 33. Aku greget pengen lanjut, dan akhirnya memutuskan untuk ga memikirkan seberapa banyak vote dan komen yang masuk.
Bener kata Bang Pandji Pragiwaksono mengerjar views itu hanya akan membuat lo stress. Dan dalam konteks ini gue terapkan kalau mengejar vote komen juga sama.
So, aku akan up ketika mau dan siap aja, yang penting konsisten. But, terimakasih untuk yang udah naik kepermukaan ya. I hope you'll stay on the ground. HEHE.
***
Sera and Sehun's House - Dago, North Bandung
Akhir pekan kembali datang. Sabtu ini Sehun tak pergi ke kantor atau keluar lapangan untuk mengecek proyek pembangunan. CEO itu justru ada dirumah dengan cemilan pagi, siang, sore, dan malam yang menumpuk di meja ruang TV. Sejak kemarin ia setia melakukan streaming serial drama berseason.
Asyik menonton bagaimana para narapidana berusaha keluar dan kabur dari penjara. Sehun begitu fokus mengamati setiap adegan yang tampil di layar kaca. Bahkan ia tak menggubris panggilan Sera.
"Hun, gantian dong." sudah kesekian kalinya sang istri meminta giliran.
"Sssttss... Ini lagi mau klimaks, Ra. Jangan ganggu dulu." jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar TV.
Merasa permintaan dirinya terus diabaikan, Sera memilih pergi. Dengan membawa kesal, ia melangkah menuju kolam berenang. Sebetulnya bisa saja Sera menonton di kamar. Tapi gadis itu ingin pakai layar 75 inch untuk film action thriller yang serba menegangkan.
Sampai sore, Sera masih melihat Sehun tak beranjak dari tempatnya. Makan siang pun dia lewatkan. Sera juga tak menawarkan sebab masih sebal. Sehun hanya berhenti untuk sholat sambil membawa pergi remot TV bersama dirinya. Memang benar-benar.
Sampai setelah matahari terbenam, Sehun memanggil Sera untuk cari makan malam diluar. Tapi si istri sama sekali tak menyaut. Sehun hampiri kamarnya yang tak dikunci.
"Kalau dipanggil tuh nyaut, Ra." katanya begitu masuk.
Sera yang sedang membaca majalah enggan menjawab. Kali ini ia akan membalas perbuatan Sehun.
"Kamu mau makan diluar ga?"
Lagi. Pertanyaannya hanya sampai udara. Tak ada balasan yang Sehun terima.
"Suami nanya tuh dijawab dong, sayang."
Sera langsung menatap tajam dan mendelik setelah mendengar kata terakhir Sehun. Berani-beraninya lagi pria itu!
"Kamu kenapa, sih?" Sehun mendekat. "Marah karena aku ga mau gantian nonton?"
Masih menutup mulut, Sera menyimpan majalahnya di nakas samping pembaringan.
Pria dengan setelan santai itu tiba-tiba tertawa geli. "Lucu banget, istri siapa sih ini?" godanya sambil mencolek dagu gadis disamping yang sedang marah.
"Ga usah genit! Keluar sana!"
Sehun jadi pura-pura sedih. "Yah, ngambek." ia duduk ditepi kasur menghadap Sera. Kemudian mendekatkan wajahnya ketelinga lawan bicara. "Tapi kalau ngambek jadi sexy." bisiknya lalu nyengir.
Tentu saja bukan hanya tatapan tajam yang dia dapat kali ini, tapi juga pukulan kencang dipinggang. Sera memang sedikit anarkis kalau digoda. Jurus jitsunya sudah keluar beberapa kali.
---
"Tumben ada yang namu pagi-pagi?" ujar Sehun sambil berjalan menuju interkom. "Liat deh, Ra, siapa yang datang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Husband in Law
FanfictionMelalui dalih persahabatan dua pria paruh baya, akhirnya terjadi ijab kabul yang menciptakan hubungan tak di inginkan antara dua manusia. Mulai saat ini Serayunika Haditama mau tak mau harus hidup sebagai istri dari Sehun Adimasta. Karena bagi Sera...
