Takut dan Amarah

414 82 84
                                        

Jangan lupa vote dan komen. Selamat membaca. I do love you my supporter! 

***

Financial Director Room, Tama Group Building - Soetta, East Bandung

"Bu, ada tamu." kata Vira begitu masuk ruangan Sera.

"Siapa?"

"Gue."

Gifar tiba-tiba muncul dari balik pintu. Ada apa lagi sampai dia harus datang ke kantor Sera? Apa mengganggunya di rumah saja tidak cukup?

"Elo? Ngapain kesini?"

"Ngajak lo makan siang?"

Sera mendengus. "Gue udah ada janji dengan client."

"Is it true?" Gifar bertanya pada Vira yang hendak meninggalkan ruangan.

"Ga usah percaya." sambar Sera kesal.

Gifar tertawa pelan. "Okay. Tapi dinner lo, gue booking."

Sera diam tak menanggapi Gifar karena pria itu langsung pergi dari ruangan begitu selesai berucap. Ia tak ingin mendengar penolakan apapun dari Sera.

Tepat setelah Gifar pergi, Sera menekan tombol panggilan yang tersambung pada telfon dimeja sekretaris.

"Vir, kalau ada wajah dia lagi ke sini, kamu usir ya. Satu lagi jangan ada tamu dadakan kecuali kalau dia orang kantor."

Begitu pesan yang disampaikannya. Vira bukan Raka, wanita itu adalah orang baru yang tak tahu apa-apa. Wajar jika dia membuat sedikit kesalahan. Ia juga tak pernah mengatakan pada sekertaris baru soal tamu dadakan yang paling dibencinya.

---

"Vir, nanti kalau ada Ital suruh langsung masuk aja ya." pesan Sera yang baru kembali dari ruangan Giantra.

Kemarin malam Krystal bilang akan datang ke kantornya hari ini saat jam makan siang. Sepertinya ada hal yang ingin perempuan itu bicarakan hanya dengan dirinya saja, sebab ia memintanya untuk tidak memberitahu Joan apalagi Kaila. Dari permintaan itu, Sera sudah tahu apa dan siapa objek yang akan dibicarakan.

"How's work?" tanya Sera setelah merapikan terlebih dahulu berkas yang menumpuk di meja kerja.

"As busy as a bee. How 'bout you? " keluh Krystal sambil menjatuhkan kepalanya ke sandaran sofa.

Sera menepuk kedua pinggir pahanya. "As you can see, man."

"Something happened?" Ia segera mengarah pada pembicaraan inti sambil duduk disebrang sofa yang Krystal tempati.

Perempuan dihadapannya menghela nafas berat. Terlihat bingung harus bicara apa. Dugaannya pun benar, Krystal bilang ia tak tak tahu harus mulai dari mana. Sahabatnya itu ingin menangis tapi tak bisa, kesal juga tak mau.

"Gue mesti gimana, Ser?"

"Coba lo jelaskan, gue juga ga bisa kasih saran kalau lo ceritanya setengah-setengah. Kai kenapa?" Sera jadi membalikkan pertanyaan. Ya, bagaimana ia akan memberi saran jika tak tahu permasalahan?

Tanpa bicara, Krystal mengutak-ngantik ponsel miliknya lalu menyerahkan benda pipih itu pada Sera. Terlihat deretan foto hasil screenshot yang menampilkan percakapan pada aplikasi obrolan. Kemudian pada slide terakhir ada satu foto yang menampakkan dua manusia.

"Gue ga ngerti lagi mesti gimana. Gue takut." keluhnya lagi.

Sera menatap lekat Krystal yang sedang menutupi wajah dengan kedua telapak tangan dimana paha dijadikan tumpuan untuk sikutnya. Perempuan itu terlihat putus asa.

Husband in LawCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang