Batang Pohon dan Makan Malam

384 87 84
                                        

Hola people! Welcome to HIL, hope you enjoy the flow. Don't ever forget to click the star and type your words in comment section. Thank you.

***

Sera and Sehun's House - Dago, North Bandung

"Pulang kerja gue jemput lo ke kantor, kita dinner."

Apa? Telinga Sera tak salah dengar? Siapa yang berbicara dihadapannya ini? Bukan Sehun Adimasta sang suami yang tak tahu diri itu, kan? Masa iya? Tak mungkin.

Sera memicin matanya dengan dahi yang ikut berkerut. Mencoba mencari maksud dari perkataan tadi.

"Apa?" Tanya Sehun sambil menatap Sera.

"Lo masih sakit?"

Ia malah balik bertanya tanpa ragu. Kali ini gantian Sehun yang mengerenyitkan dahinya. Pria itu jadi heran sendiri.

"Gue sehat."

"Ga kepentok sesuatu?"

Financial Director Room, Tama Group Building - Soetta, East Bandung

Satu minggu setelah pemutusan Sera dan Rosé untuk menjebloskan adik Gisel ke bui, banyak headline news koran dan hot breaking news stasiun TV lokal kota Bandung yang menampakkan wajahnya. Bahkan beberapa stasiun TV nasional pun sempat meliput hal ini. Ternyata tak hanya seorang pemakai, anak bungsu dari empat bersaudara itu juga merupakan pengedar yang sudah lama diincar.

Satu ranting pohon keluarga pemilik Indomediator tumbang bersama senyuman sinis penuh kemenangan milik Sera. Pengusikan yang dilakukan Sera terlihat begitu mudah, tapi ini baru awalan. Masih ranting pohon yang Sera tebang, jadi sekedar memotong hanya dengan sebilah pisau pun bisa.

"Great job. Gue suka kejutannya." Bicara Sera di telfon.

"Well, itu hadiah kecil karena lo juga udah ngasih info awalan ke gue."

Ya, Roséanne lah yang ada di ujung telfon sana. Tadinya siang nanti, Sera akan bertemu langsung. Namun, COO itu sedang melakukan perjalanan bisnis ke Taiwan.

"Next, akan lebih susah karena penggelapan dana si Danung --kakak laki-laki Gisel-- ngelibatin politikus."

"Wow, jago juga mainnya. Asuransi politik sama dukungan kampanye ya?" Tebak Sera.

Rosé membenarkan jawaban Sera, "Bukan cuma itu, penyelewengan pajak juga."

"Hell no! Ga main-main anjrit. Pantesan advertisingnya mulus."

"Itu baru batang pohon, kalau udah nyampe akar, susah nyambutnya. Kakaknya yang cewek lebih parah."

Sera tertawa. Benar juga kata Rosé, itu baru batang pohon. Tapi ia percaya kalau sepupunya yang tangguh itu pasti bisa. "Incredible! We'll see. I think that's easy for you. Trust me, you can."

Setelah itu Sera memutuskan sambungan telfonnya karena Rosé yang harus segera masuk ruang meeting. Ia juga sama, ada presentasi dari tim project yang harus dihadiri.

Chief of Lawyer, Tama Group Building - Soetta, East Bandung

Setelah perdebatan panjang antara ketua tim project dengan Giantra di rapat tadi, Sera memilih datang ke ruangan Chandra.

"Chan, temenin gue minum, yuk?"

"Tumben, apaan nih? Biasanya wajah begini masih belum perlu." Tilik Chandra dari kursi kebesarannya.

Sera kemudian menjatuhkan badannya ke sofa tamu. "Lagi pengen aja." Katanya lalu tersenyum dan menatap Chandra.

"Udah lama kamu ga minum. Sayang badan, ga usah ya?" Bujuk Chandra kemudian.

Husband in LawCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang