Hari ini spesial untuk Sehun! For my high king, aku buatkan part menurut perspektif dia tapi masih pakai sudut pandang ketiga. Aku enggak lanjutin dulu cerita. But don't be sad, aku akan bawa kalian sebentar untuk flashback ke pertemuan Sera dan Sehun yang punya percakapan panjang lebar di sejarah pertemuan mereka. So, happy reading!
***
Seperti disambar petir siang bolong, Sehun merasa hidup yang ia rencanakan sejak lama hancur begitu saja dalam hitungan detik. Penyebabnya hanya satu, yaitu kepatuhannya terhadap Ginanjar Adimasta. Karena perkataan pria tua baya itu sulit untuk dibantah begitu saja. Ia sudah terlanjur menjadi robot kesayangan sang Eyang.
Satu kalimat yang keluar dari mulut Ginanjar bisa jadi perintah tak terbantahkan bagi Sehun. Tak seperti kakaknya, ia lebih sulit untuk menolak. Seolah ada beban hutang yang harus ia bayar akibat perbuatan Sehan yang sering "membangkang". Sehun merasa bertanggung jawab atas harapan yang tak bisa diberikan si cucu nomor satu sebagai kebanggan keluarga, sebab ia adalah si nomor dua.
Sehun kerap kali harus bersinergi dengan hal yang enggan ia jalani. Berjalan tanpa ada yang bertanya apa yang ia rasakan. Berlari tanpa ada yang menghentikan. Hingga terjatuh, tak ada satu pun yang membangkitkan. Karena Sehun begitu pintar, ia pintar menyembunyikan. Bersembunyi dibalik wajah dingin yang kadang tersenyum.
Bukan hanya mimpinya menjadi pembalap F1 yang harus diredam, tapi juga pernikahannya dengan sang kekasih yang harus ditahan. Hidupnya memang terlihat bahagia, namun disatu sisi ia begitu menyedihkan.
Malam ini, ia akan bertemu dengan calon partner kerja sama atau bisa jadi pesaing dalam project perjodohannya. Iya, ia lebih suka hal ini disebut sebagai project semata. Dimana "pekerjaan" sekarang akan rampung suatu saat nanti atau bisa dibatalkan ditengah jalan sepecepat mungkin.
Anggaplah juga ketersediaannya sebagai satu bukti bakti lain pada tetua. Meskipun sudah pasti ia sama sekali tak antusias dengan semuanya. Berbeda dengan dirinya, baik Ginanjar, Risa, maupun Seno begitu menanti datangnya hari ini. Sejak pagi tadi mereka sudah ribut mewanti Sehun untuk ini dan itu.
Sehun tahu siapa yang akan dijodohkan dengannya. Serayunika Haditama. Wanita dingin, kejam, perfeksionis, misterius, dan tak terkalahkan. Lima hal itu yang setidaknya ia ketahui selama menjadi pemegang saham di Tama Group. Sehun sempat bertemu dengannya beberapa kali di RUPS. Ia juga tahu cara kerja wanita itu lewat selentingan pemangku kepentingan Tama Group yang lain.
"Hun, inget ya nanti disana wajah kamu di kontrol. Banyakin senyum."
Entah sudah berapa kali kalimat itu ia dengar dari mulut Risa. Sampai telinganya terasa pegal.
"Iya, Bun."
---
"Halo, Sehun. Ya ampun makin kinclong aja, nih. Udah lama ya tante ga liat kamu. Makin gede, makin mantap."
Goda Mira Rianti Haditama begitu Sehun menginjakkan kaki di teras rumah. Sesuai dengan apa kata Bunda dan orang-orang, calon mertuanya ini memang sedikit humoris. Humoris yang berujung dengan kekehan garing.
"Halo, tante. Gimana kabarnya?" Sehun balas sapaan itu dengan senyum dan bertanya.
"Baik-baik. Kamu juga baik, kan?"
"Baik, tante."
Setelah ritual penyambutan ala ibu-ibu, mereka semua akhirnya bisa masuk. Tapi sejauh mata memandang, Sehun tak melihat si calon istri. Yang duduk dihadapannya sekarang justru sang kakak perempuan.
"Sera masih dijalan, katanya macet banget ada tabrakan." kata Mira menjelaskan.
Sambil menunggu kedatangan Sera, mereka berbincang soal bisnis dan segala kenangan yang terjadi di masa lalu. Mira mendominasi percakapan karena mulutnya yang hobi bicara. Berbanding terbalik dengan Risa yang bisanya hanya senyum memperhatikan meski sesekali ia juga bergurau dan bercerita.
KAMU SEDANG MEMBACA
Husband in Law
Fiksi PenggemarMelalui dalih persahabatan dua pria paruh baya, akhirnya terjadi ijab kabul yang menciptakan hubungan tak di inginkan antara dua manusia. Mulai saat ini Serayunika Haditama mau tak mau harus hidup sebagai istri dari Sehun Adimasta. Karena bagi Sera...
