Bagian 2

3.3K 127 2
                                        

"Jadi lo menerima perjodohan itu Jul?!" Reza hampir saja terlonjak dari kursinya ketika mendengar apa yang baru saja aku katakan.

Aku melotot, memberinya sinyal agar ia bersikap wajar karena beberapa karyawan dan klien menoleh ke arah kami. Dalam beberapa hal, memang pria kemayu ini terlalu berlebihan dalam menyikapi sesuatu.

Siang ini aku, Reza dan juga Eli sedang berkumpul di lantai bawah kantorku. Aku memang sengaja mengundang mereka untuk datang karena Reinard juga akan datang untuk menjemputku makan siang. Aku berniat memperkenalkan 'calon suamiku' pada mereka.

"Gimana enggak kaget coba El?" Reza memutar kepalanya ke arah Eli yang sejak tadi hanya menyimak dengan tenang. "Iya enggak?"

Eli menyandarkan tubuhnya di badan sofa, lantas mengangguk. "Iya sih, tapi gue enggak seheboh lo kok mak!" nada suaranya sedikit mencemooh.

Reza mendengkus kesal. Untung mengurai kesalnya, ia mengambil sekotak salad di atas meja lalu memakannya dengan rakus. Nah, di saat-saat seperti ini justru aura ke-lelakiannya Reza muncul.

"Kok tiba-tiba banget sih lo berubah pikiran tentang masalah pernikahan Jul? Padahal sebelum-sebelumnya lo selalu menolak dengan tegas waktu lo dijodohin?" Eli menatapku dengan sungguh-sungguh. "Apa dia benar-benar prince charming yang lo cari selama ini?"

Aku terkekah mendengar ucapan Eli. Rupanya wanita itu masih ingat kalimatku beberapa tahun lalu, bahwa aku sedang mencari 'prince-charming' untuk aku nikahi.

Dibandingkan dengan Reza yang super heboh, Eli terlihat wajar. Mungkin karena ia sudah berpengalaman dengan sebuah pernikahan. Eli seorang model, di usianya yang ke dua puluh satu tahun, ia pernah menikah dengan pria yang usianya terpaut sepuluh tahun lebih tua darinya dan bekerja sebagai seorang sutradara. Namun bukannya langgeng, di usia pernikahan yang belum genap setahun, mereka malah bercerai dan berimbas dengan perubahan pola fikir Eli—yaitu ia trauma untuk menikah. Wanita itu lebih memilih menghabiskan waktu dengan beberapa pria sekaligus, bermain-main dengan mereka lalu saling menjauh ketika bosan.

"Karena gue merasa memang sudah waktunya El." Sahutku sambil menyesap teh hangat yang beberapa waktu lalu dibuatkan oleh salah seorang asistenku. "Enggak ada hubungannya sama si-prince charming yang dulu pernah aku katakan."

Eli hanya manggut-manggut, mencoba memahami kata-kataku.

"Tapi lo yakin, padahal usianya jauh lebih muda dari lo Jul. lo percaya enggak akan kesusahan karena usia suami lo lebih muda. Eli aja yang dapet lebih tua akhirnya—" Reza mejeda kalimatnya karena lirikan mata Eli yang tiba-tiba tertuju ke arahnya.

"Sorry El. Gue lagi nyari contoh. Dan bagusnya, gue enggak perlu cari jauh-jauh karena lo sudah berpengalaman dalam pernikahan sekaligus perceraian." Tentu saja, kalimat Reza yang nyablak berhasil membuat Eli melayangkan pukulan di kepala pria itu.

"Lo jangan memukul rata setiap hubungan pasti enggak akan ada bagusnya kayak hubungan pernikahan gue kuya!" omel Eli kesal. "Gue waktu itu khilaf. Paham?"

Reza mencebik, dan kembali mengaduk-aduk saladnya seolah tidak peduli dengan apa yang baru saja Eli katakan. Ia sudah terbiasa kena marah Eli karena sering mengungkit-ungkit masa lalu wanita itu. Meskipun Eli sering marah-marah dan berakhir dengan timpukan, namun tetap saja tidak membuat Reza kapok.

"Gue heran deh sama lo, lontong sayur!" omel Eli belum berhenti, tatapannya menghunus pada Reza yang bersikap masa bodoh di sampingnya. "hobi banget sih ngingetin gue sama masa lalu?"

Reza membelalakkan mata. Ditaruhnya wadah salad yang sejak tadi di pegangnya ke atas meja dengan menghentak. "Gue enggak bandingin elo maaak! Gue cuma mau kasih tau Julia tentang hal ini, mengerti?! Lo-nya aja yang terlalu sen-si-ti-ve." Reza melipat kedua tangannya di depan dada dengan begitu gemulai. "Dan sekali lagi lo panggil gue lontong sayur, gue enggak bakalan maafin lo!"

Klandestin (Selesai)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang