.
Setelah berbincang-bincang dengan semua anggota. Ketujuh anggota inti Phoenix semuanya sudah berkumpul. Dengan formasi duduk melingkar di meja bundar khusus di ruangan Inti.
Terlihat serius, raut wajah mereka menunjukkan rasa terbayang akan kejadian tahun lalu yang menimpa keluarga kita. Tentang gugurnya salah satu anggota Phoenix, tewas karena kasus yang sampai saat ini belum terpecahkan.
"Keluarga Wira, ingin mendapat keadilan. Mereka ingin usut kasus ini sampai tuntas." Ujar Agam, matanya fokus menatap layar laptopnya.
"Tapi Gam! Polisi bukannya kekeuh nutup ini kasus? Kalo pun kita minta buat lanjutin ini kasus, gak bakal di proses lebih lanjut sama pihak kepolisian." Ujar Akbar.
Danish mengangguk menyetujui. "Bukti-bukti yang menunjukkan kalo kasus Wira benar karena pembunuhan." Sahutnya.
"Tolol emang. Udah jelas-jelas waktu Wira di eksekusi, sekujur tubuhnya banyak luka tusukan, bukan karena tabrakan. Gedeg gua sama tuh polisi!" Kekesalan Rifki membludak mengingat, kepolisian menutup kasus Wira bukan kasus yang serius.
Kepolisian menganggap bahwa kasus Wira ini hanya tabrak lari. Tetapi, Adya dan yang lain tidak bisa terima mendapati kebenaran yang tidak sesuai dengan kondisi Wira saat itu.
Mereka yakin, termasuk juga keluarga Wira yang tidak dapat pembuktian kebenaran yang sesungguhnya. Jika sudah jelas-jelas bahwa kasus Wira ini adalah kasus pembunuhan.
"Kita usut kasus ini sampai tuntas. Tanpa bantuan polisi." Ucap Adya, dia menatap satu persatu teman-temannya ini. Menunggu jawaban dari mereka, apakah siap?
"Kita juga harus hati-hati. Atur semua strategi dengan alus. Gua yakin, tersangka lebih profesional sampai polisi gak bisa mendeteksi dengan benar." Ujar Relda.
Semua mengangguk dengan tegas dan yakin. Bahwa mereka akan bisa mendapatkan bukti tentang kasus pembunuhan ini. Mencari, menggali dan berusaha membersihkan nama kawan kita yang saat ini membutuhkan keadilan.
"Yo, lo sama Relda nanti malem minggu gua tugasin buat dateng ke TKP. Bukti dari CCTV udah gak bakal mungkin, lo bisa cari lewat orang-orang yang tinggal disana." Kata Adya menunjuk Gio dan Relda.
"Dari pedagang kaki lima yang mungkin sedikit tau tentang kejadian itu." Imbuh Agam, "lo bisa bantu anak yang lain juga buat ikut kesana." Lanjutnya lagi yang langsung di angguki oleh Gio dan Relda.
"Danish, Akbar sama Rifki bisa patroli di taman kota yang deket SMA Kencana. Gua denger disana, geng baru sering nongkrong tiap lewat jam sembilan malem." Ujar Adya, ia juga jadi teringat akan geng yang dulu Rifki tabrak. Bisa saja, dari geng baru yang katanya sering nongkrong di taman kota ada sedikit pemantauan dan tahu setiap pergerakkannya.
"Okeh, stock susu coklat jangan lupa ye Dy?" Kata Akbar dengan cengirannya.
Rifki mentoyor kepala Akbar pelan, "Yeuu dasaarr!! Gak sekalian aja lo bawa popok ama kasur?!"
"Sekalian juga lo belagak jadi emaknya! Pake daster ama handuk lo lilitin di kepala, biar si Danish jadi bapaknya!" Sahut Gio tertawa karena sambil membayangkan.
Danish melempar Vape ke arah Gio, "Upil bagong! Diem aja dah kagak usah ikut-ikut!" Protesnya.
"Utututu, emak iki dan bapak anis sedang mengayomi anaknya di taman kota!" Sahut Relda dengan tawanya yang pecah.
"HAHAHA ANJRIT HUMOR RENDAHAN!!" Gelak tawa Relda, Akbar dan Rifki memenuhi ruangan itu. Agam yang hanya melirik sekilas, dan masih fokus menatap ke layar laptop. Sedangkan Adya hanya tersenyum simpul mendengarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Double'A [END]
Novela Juvenil[ 𝘽𝙐𝘿𝘼𝙔𝘼𝙆𝘼𝙉 𝙁𝙊𝙇𝙇𝙊𝙒 𝙎𝙀𝘽𝙀𝙇𝙐𝙈 𝙈𝙀𝙈𝘽𝘼𝘾𝘼! ] BURUAN BACA SEBELUM DI REPUBLISH!!! ~ - Ketika Kita Bersahabat Dengan Sebuah Luka - Adriana Albertina, sesuai dengan namanya dia adalah wanita pemberani yang dikenal banyak masyara...
![Double'A [END]](https://img.wattpad.com/cover/230774521-64-k953281.jpg)