.
Pagi subuh ini, Adriana sudah rapih dengan pakaiannya. Matanya melirik jam di dekat nakas, menunjukkan pukul 5 pagi. Kakinya berjalan, mengambil kunci motor di atas meja belajar.
Dirasa sudah selesai Adriana keluar kamar dan berlari kecil turun ke bawah. Di sana, tepatnya di ruang tamu Mega sedang duduk santai sehabis shalat subuh, dengan teh hangat berada di dekatnya.
Derap langkah Adriana menyadarkan Mega yang sedang membaca majalah, kepalanya menengok ke kiri melihat Adriana rapih dengan pakaian hitamnya.
"Mau kemana Ri? Tumben pagi-pagi gini?" Tanya Mega seraya menyimpan majalahnya di meja.
Adriana berdehem, "bilangin sama Papa, kalo nanti Riri gak pulang jangan khawatirin anak gak guna ini." Katanya dengan nafas tercekat, pikirannya kembali teringat dimana perdebatan dengan Albert waktu lalu.
Mega menghela nafasnya panjang, dia bangkit dan menghampiri anak tirinya itu. "Sayang..jangan berbicara seperti itu, Papamu juga sudah menyesali atas perkataannya." Kata Mega, Adriana hanya diam dengan pandangan yang lurus.
"Sekarang kamu mau kemana? Gak mau nungguin Papa dulu?" Adriana menggeleng, kemudian menatap Mega. "Riri mau temuin Mama." Ucapnya, Mega sedikit terkejut, ini yang dia takutkan.
Setelah 3 tahun, Adriana tidak menghampiri Cristy di TPU Jakarta. Karena situasi dan kondisi Adriana yang tak memungkinkan.
Mega orang yang paling tahu dan mengerti. Saat itu Adriana memaksa untuk menemui makam sang ibu, dan ternyata fisik dari wanita itu tidak kuat dan drop kembali. Sampai Adriana harus di rawat karena depresi kecil. Albert sangat membatasi Adriana jika ingin menemui Cristy, itu semua demi kebaikan dan kesehatan Adriana. Mega takut mental dan fisik Adriana akan mengguncang kembali.
Adriana yang melihat wajah Mega seperti berpikir, dia berkata. "Gak usah khawatir, Riri udah bisa ngontrol diri sendiri. Gak usah takut juga kejadian dulu akan terulang." Ucapnya, muncul kerutan di dahi Mega.
Dia harus bagaimana? Jika mencegahnya untuk tidak pergi dia akan semakin di benci Adriana. Jika memperbolehkannya, apa yang harus dia katakan pada Albert?
Dengan ragu Mega mengangguk pelan, "Mama temenin?" Tawarnya, Adriana menggeleng, "Riri pengen sendiri." Tolaknya, Mega menarik nafasnya kemudian mengelus punggung Adriana lembut.
"Hati-hati, kalo ada apa-apa kabarin Mama." Hanya dibalas deheman oleh Adriana. Setelah itu, Adriana pergi melenggang ke luar. Mega hanya menatap punggung Adriana yang semakin menghilang dari pandangannya.
Dalam hati, Mega terus berdoa. Supaya Adriana selalu mendapat lindungan dari yang di atas. Dan juga ketakutannya pada wanita itu, tidak akan pernah terjadi. Semoga Adriana bisa melewati masa sulitnya, dan hidup bahagia. Itu pesan Mega.
"Kamu ngobrol sama siapa?" Suara berat seseorang menyadarkan Mega.
"Enggak, aku habis berbicara dengan temanku di telpon." Apapun akan Mega lakukan demi Riri.
****
Satu jam setengah perjalanan Adriana lancar, tanpa hambatan. Motornya melaju dengan kecepatan sedang, dia ingin menikmati perjalanan ini dengan hati yang tenang.
Cukup nekat buat seorang perempuan menempuh perjalanan Bandung-Jakarta memakai kendaraan roda dua. Jaman sekarang, biasanya mereka hanya ingin cepat sampai dan duduk santai di belakang jok tanpa ingin tahu bagaimana rasanya menyetir dalam waktu yang cukup lama.
Adriana tidak masalah, dari pada memakai mobil dia lebih memilih menggunakan motor. Mobil akan susah untuk menyalip, apalagi jalanan semakin siang semakin ramai dan itu akan menyebabkan kemacetan. Maka dari itu Adriana memilih motor supaya bisa menyalip dan tidak memakan waktu lama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Double'A [END]
Teen Fiction[ 𝘽𝙐𝘿𝘼𝙔𝘼𝙆𝘼𝙉 𝙁𝙊𝙇𝙇𝙊𝙒 𝙎𝙀𝘽𝙀𝙇𝙐𝙈 𝙈𝙀𝙈𝘽𝘼𝘾𝘼! ] BURUAN BACA SEBELUM DI REPUBLISH!!! ~ - Ketika Kita Bersahabat Dengan Sebuah Luka - Adriana Albertina, sesuai dengan namanya dia adalah wanita pemberani yang dikenal banyak masyara...
![Double'A [END]](https://img.wattpad.com/cover/230774521-64-k953281.jpg)