65 - "Jangan pergi, Ri!"

2K 95 19
                                        

.

Danish pamit kepada Albert untuk pergi ke kamar rawat Adya. Tangannya terulur membuka pintu kamar itu, dia harus segera memberitahu kondisi Adriana pada pria itu. Tapi apakah kabar ini baik untuk kesembuhan Adya?

Apapun. Dia harus mengetahui kondisi wanitanya, karena sedari tadi Adya juga tidak bisa tidur padahal obat tidur yang diberikan Dokter saat di IGD tadi masih bereaksi dan Adya tidak mengantuk sama sekali. Pikirannya hanya tertuju pada kondisi wanita itu, yang dia inginkan hanya mendapat kabar Adriana.

"Gam. Anter gue ke IGD."

"Ngapain Dy?" Gio yang bertanya.

"Gue pengen ketemu sama Adriana."

"Adriana masih di tangani Dokter, lo istirahat aja Dy." Kali ini Gara yang memberitahu.

Kepala Adya menggeleng. "Gue pengen nunggu disana." Ucapnya kekeuh.

"Nurut lah Dy! Lo juga masih sakit, fokus dulu sama kesembuhan lo." Agam berbicara, dia sedikit kesal dengan tingkah pria itu yang tidak memperhatikan kesehatannya.

Adya membuka selimut yang menutupi tubuhnya, dia bangun seraya memegang perutnya yang terasa sakit jika bergerak.

"Bandel amat!" Keluh Gara, Akbar menghela nafasnya panjang.

"Lo diem dong makannya, gak usah banyak gerak!" Kata Akbar.

"Bar anter gue kesana."

Gio dan Agam menghembuskan nafasnya kasar. Mau sakit tidak sakitpun pria itu sangat menyebalkan dan keras kepala.

"Gak perlu Dy."

Mereka mengalihkan pandangannya ke arah pintu, Danish berjalan menghampirinya. "Nurut aja Dy. Besok bisa temuin Adriana kalo kondisi lo membaik." Ujarnya.

"Gue udah membaik Nis."

Danish menghela nafasnya berat, dia menatap orang-orang di depannya secara bergantian. "Gue bakal ngasih tau kondisi Adriana, asal lo stay di kamar sampe lo bener-bener pulih."

Adya terdiam, berpikir sebentar lalu mengangguk setuju.

"Arkan sama Adriana kritis. Jadi percuma juga kalo lo kesana, gak bakal bisa masuk."

"Kritis?" Ulang Adya, kepalanya menggeleng tidak percaya.

"Lo serius Nis?" Tanya Akbar.

"Muka gue serius apa bercanda?" Balas Danish.

Kepala Adya menunduk, jantungnya terasa berdetak sangat cepat mendengar kabar dari Danish. Tangannya langsung mendingin, bagaimana jika Adriana tidak bisa bertahan. Dia tidak mau kehilangan wanita itu lagi. Hatinya mencelos merasakan nyeri yang menusuk dadanya berkali-kali.

Apa yang harus dia lakukan untuk menebus semua ini. Adriana seperti ini karena menolong dirinya saat Remon akan menghabisinya. Kenapa harus Adriana. Jika saja wanita itu tidak menolong dirinya, maka Adriana akan baik-baik aja sekarang tidak akan merasakan sakit hingga wanita itu kritis.

"Semua ini karena dia nolongin gue!" Satu air matanya lolos dengan cepat ia menghapusnya pakai tangan.

Akbar mendekati Adya, menarik tubuh pria itu ke dalam pelukannya. Akbar bisa merasakan kesedihan yang dialami oleh Adya, tapi dia juga tahu jika Adya terus larut dalam kesedihan dan terus menyalahkan diri akan membuat kesehatannya semakin down.

"Semua ini udah takdir Dy. Gak perlu di sesali." Ucap Akbar mengusap punggungnya.

"Tapi dia kritis karena gue! Coba aja dia gak nolongin gue dan berlagak sok pahlawan!!" Ucapnya menyesal.

Double'A [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang