56 - Arkan vs Remon :: hidden vengeance.

1.6K 93 17
                                        

.

Semilir angin di malam hari menemani langkah 2 anak muda yang baru saja keluar dari halaman rumah. Adriana dan Arkan berjalan santai menuju taman kota. Keduanya sama-sama ingin menghirup udara malam sekedar menghilangkan beban pikiran sejenak.

Wajah Adriana mengadah ke atas langit, melihat bintang yang berkilauan dengan sangat cantik. Bibirnya membentuk lengkungan, ia tersenyum tipis sambil berkata.
"Mama lagi apa ya?"

Mendengar itu, Arkan menoleh melihat wanita di sampingnya ini sedang larut menatap bintang.

"Liat deh Kan, diantara banyaknya bintang disana cuma satu yang cahayanya redup." Arkan ikut mengadah melihat ke atas langit, dan menunggu Adriana melanjutkan perkataannya.

"Bintang itu sama persis kaya posisi gue sekarang."

"Dia sendirian, disaat bintang-bintang di sekelilingnya berkilauan dia gak berdaya dan gak mampu buat menyelarakan seperti bintang yang lainnya."

Arkan tahu apa maksud dari perkataan Adriana. Dia merangkul wanita itu, "itu artinya dia beda dari yang lain, bukan berarti cahaya dia redup dia gak bisa menghidupkan kembali cahayanya."

"Lo hebat bisa bertahan sampe di titik ini,"

"Gue gak sehebat itu. Gue cuma terpaksa mengikuti alur kehidupan gue yang gak akan ada habisnya." Ucapnya menyela perkataan Arkan.

Arkan menghela nafas pelan, jarinya menyentil kening Adriana. Tukk!! "Payah, ini bukan hal besar buat lo. Gak usah terlalu meratapi hidup, bawa enjoy biar masalah hidup lo bisa bersahabat."

Adriana memegang kening dan mengelusnya. "Gak usah nyentil juga monyet!" Sarkasnya kesal.

Arkan terkekeh, "ayo dong semangat! Jangan galau-galau, dari pada galau mending kita makan aja gimana?" Adriana berpikir, lalu mengangguk.

"Boleh deh, gue pengen makan sate."

Senyum Arkan merekah, dia berhasil menghibur Adriana agar tidak terlalu memikirkan masalah yang sedang menimpanya.

"Siap bang, 100 tusuk!!" Seru Arkan berteriak, keduanya tertawa bersama dan melanjutkan jalannya.

Hari ini bukan malam minggu tetapi banyak juga pasangan yang sengaja jalan-jalan menikmati kebersamaan mereka.

Sesampainya di taman kota, mereka mencari tempat duduk untuk beristirahat sebelum mencari terpal gerobak Sate.

"Gue beli minum dulu ke depan, lo jangan kemana mana." Kata Arkan, Adriana hanya mengangguk.

Seperginya Arkan, pandangan lurus Adriana membuat matanya menyipit melihat objek di depan sana. Hanya dalam waktu 1 menit, wajahnya berubah begitu sinis lalu tersenyum miring.

"Cari sampe ke lubang kematian lo sendiri."

Adriana beranjak akan menyusul Arkan yang berada di sebrang sana. Baru saja 15 langkah dari tempatnya semula, segerombolan motor datang menghadangnya.

Decakkan malas keluar dari mulut Adriana. Sudah tahu siapa orang-orang yang berada di balik helm fullface hitam itu.

Suara tepuk tangan serta sorakkan dari mereka mengundang perhatian orang sekitar taman kota. Ada yang menontonnya ada juga yang berlari ngibrit karena takut.

"Adriana.." Sebut seseorang menghampirinya. Adriana meneliti setiap gerakkannya, lebih tepatnya menanti apa yang akan dia lakukan.

"Makin cantik aja nih," pujian basi nya membuat bulu kuduk Adriana berdiri, rasa ingin memuntahkan makanan yang tadi siang ia makan tepat di wajah orang itu.

Double'A [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang