40 - Detik detik perungkapan

2.2K 119 5
                                        

.

Mobil Adriana terparkir di depan gerbang rumah milik Adya. Ia tidak bisa memasukkan mobilnya masuk ke halaman rumah Adya di karenakan dua mobil hitam terparkir rapih di halaman rumahnya.

Sembari turun dari mobil, Adya mengernyitkan dahinya bingung. Melihat dua mobil yang tak asing baginya. Melihat plat nomor polisi dari mobil tersebut Adya tahu, bahwa itu adalah mobil milik Papa nya.

"Ssst, sstt!" Adya menengok ke belakang, "apa?" tanyanya pada Adriana.

Saat turun dari mobil Adriana tanpa sadar menginjak sesuatu dengan aroma yang sangat menyengat di hidung.

"Sini dulu!" suruhnya. Adya menghela nafasnya gusar, dia mendekati wanita itu.

Adriana menunjuk ke bawah kaki, membuat Adya tidak mengerti apa maksudnya. "Ihh liat tangan gua." katanya.

Adya melihat arah tunjuk Adriana dan seketika matanya membulat. Dia berjongkok mengambil ponsel dan menyalakan lampu senter dari ponselnya. Tak lama dia menertawainya dengan sangat lantang.

"Jorokk banget anjirr!!" pekik Adya dengan tawanya.

Adriana tidak mau melangkahkan kaki kiri nya. "Apa sih Dy?!" sarkas Adriana jengah.

Adya berdiri, menunjuk Adriana. "Lo jangan masuk ke dalem. Gua gamau rumah gua jadi kotor dan bau gara-gara lo." Ujarnya dengan mendelik.

"Ihh ini apa? Adya ih!"

Adya bahkan semakin ingin tertawa melihat ekspresi dari Adriana yang semakin dia kesal semakin menggemaskan di matanya.

Adriana mengembungkan pipinya kesal. Dia menunduk dan melihat sendiri apa yang ia injak oleh kaki kirinya.

Mata Adriana melotot, ternyata dia menginjak pup Anjing yang masih hangat. "itu masih anget loh Ri, hahahaha!" Ledekan Adya membuat Adriana semakin kesal.

Adriana berjongkok, membuka kaitan heels di kakinya dan melempar ke laki-laki di depannya. Adya dengan gerakan cepat menghindar dari lemparan heels milik Adriana.

DUG!

"Anjing mobil gua!!"

Adya mengangkat kedua tangannya menandakan ia tidak ikut, wajahnya masih menahan tawa.

"TARIK PEMBICARAAN KAMU VANYA!!!"

Teriakan dari dalam rumah Adya membuat keduanya saling menatap dengan tatapan bingung.

Adya bergegas berlari kecil masuk ke dalam rumah dan melihat apa yang terjadi keributan kecil di dalam.

"Adya tungguin!" Teriak Adriana dengan lari memakai satu heels.

"APA YANG SAYA UCAPKAN TIDAK AKAN PERNAH SAYA TARIK KEMBALI MAS!"

"BENAR-BENAR YA KAMU INGIN SAYA HABISI!!" Nendra mengangkat sebelah tangannya, akan melayangkan tamparan kepada Vanya.

"PAPA!!!"

Nendra dan Vanya melirik secara bersamaan ke arah pintu.

"Adya.." lirih Vanya.

Adya berjalan mendekat, senyuman miring terukir di wajah Adya. "Jadi ini kelakuan Papa yang bikin Bunda menderita? Papa selalu bermain fisik sama Bunda?" Ucapnya.

"Apa maksudmu Dy? Ini gak seperti apa yang kamu lihat." Nendra melakukan pembelaan untuk dirinya sendiri.

Adya hanya menatap Nendra tajam dan menghampiri Vanya. "Bun, bunda gak apa-apa?" Tanya Adya khawatir.

Vanya tersenyum, di balik senyumnya terhadap Adya banyak rasa ketakutan. Apa sikap Adya akan sama seperti ini, setelah dia mengetahui kebenaran yang sebenarnya. Sikapnya yang lembut dan sangat perhatian apa akan hilang karena kebenaran yang bisa dihitung dalam hitungan menit akan terungkap?

Double'A [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang