66 - The last but not the end.

1.7K 104 7
                                        

.

Agam, Rifki, Relda dan Gara berada di kantor polisi saat ini. Memberikan pernyataan kedua setelah kasus ini akan dilanjut di pengadilan. Gara akan memberikan pernyataan tentang sang adik yang di lecehkan oleh si Remon agar penjahat itu bisa dihukum seberat-beratnya.

"Selain kita atau saksi yang ada, kita juga butuh kesaksian Arkan sama Adriana mereka lebih tau dan kenal Remon seperti apa." Ujar Gara.

"Bisa aja Adya yang kasih pernyataan ke polisi gimana kronologi kejadian mereka waktu bertiga di gedung itu." Lanjut pria itu lagi, menatap ke arah Agam.

"Kondisi dia gimana sekarang?" Tanyanya.

Agam menghela nafas pelan, mengubah posisi duduknya menjadi bersandar. "Dia kembali drop."

"Kenapa lagi, Gam?" Tanya Rifki.

Agam mengedikkan bahunya tidak tahu. "Kangen kali."

"Adriana?" Agam mengangguk pelan.

Rifki mendecak berkali-kali. "Ya pasti sih, obat tuh anak cuma Adriana saat ini." Ucapnya, mengerti dengan apa yang di rasakan temannya itu meskipun dia belum pernah merasakan rasa cinta kembali setelah sekian lama.

Relda beranjak, pria itu tidak mengatakan satu patah kata pun dan melenggang pergi. "Rel, kemana?" Tanya Rifki, pria itu tidak menjawab dan terus melangkah.

"Tuh anak sariawan nya belum sembuh-sembuh ye?" Celetuk Gara, membuat Agam dan Rifki menoleh.

"Sariawan?"

"Iya, si Relda gak banyak omong, lagi sariawan kan? Gue tau sih rasanya gimana, buat ngomong aja males bawaannya gak mood aja gitu." Cerocos Gara.

Rifki tertawa keras, sedangkan Agam hanya tersenyum simpul mendengarnya. Karena Gara tidak tahu kejadian tempo lalu yang membuat Relda jarang berbicara sekarang.

"Lah ngapa ketawa? Gue kagak ada ngelawak padahal." Ujar Gara bingung.

Rifki menghentikan tawanya, "dia bukan sariawan."

"Terus?"

"Bibirnya belum di service, jadi sawan!" Celetuk Rifki kembali tertawa.

Gara yang mengerti dengan kata-kata sompral Rifki hanya bisa mendengus kecil.

****

"Nis?"

Suara berat dan serak Adya membangunkan Danish yang tertidur di atas perutnya. "Lo ngapain?" Tanya Adya saat Danish mulai membuka matanya dan tersadar.

Danish menggulat dan menguap, meregangkan tubuhnya karena pegal tertidur dengan posisi yang tidak enak. "Gue ketiduran, karena lo gak mau jauh-jauh dari gue!" Sarkas Danish, menatap ke tangan Adya yang masih memegang tangannya.

Mengikuti arah mata Danish, Adya langsung melepasnya mengubah posisi tidurnya menjadi terduduk dan bersandar.

"Terus ngapain masih disini?"

Danish mendecak, bisa-bisanya setelah dia rela menahan perutnya yang lapar demi menjaga sang paduka, dan ini balasannya?

Danish mengacak rambutnya, dan beranjak dari kasur itu. "Lekas sembuh deh, biar gak ngerepotin!" Tandas Danish kesal. Dia berjalan keluar kamar.

Setelah di pikir-pikir, benar juga kata Danish. Dia merepotkan?

Adya mengusap wajahnya kasar, merasakan sakit di kepalanya. Mungkin karena dia tertidur cukup lama, dan membuat kepalanya pusing.

Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan itu, teringat akan sesuatu tapi semakin dia mengingatnya kepalanya semakin pusing.

Terbayang-bayang akan perkataan seseorang yang terus memenuhi pikirannya, tapi apa.

Double'A [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang