.
"Ini si Riri tumben belum dateng?" Ucap Mela, melihat arlojinya menunjukkan pukul 7.
"Kena macet kali." Sahut Agatha.
"Kalian ngerasa aneh gak sih?" Ucap Agatha, Dalia yang sedang membaca novel pun menoleh menatap Agatha. "Aneh gimana?" Tanyanya.
"Ya aneh aja, Riri orangnya beneran pendiem banget gak sih? Waktu itu, gue liat memar di lehernya. Gue gak tanya sih, cuma liat doang tapi dia kek marah sama gugup gitu." Kata Agatha menjelaskan.
Mela membenarkan posisi duduknya. Mebalikkan kursinya ke meja Agatha. "Gimana sih, gue ngerti." Kata Mela.
Agatha berdecak. "Coba deh, lo inget gak waktu sekolah kita di serang. Riri bilang ke kita mau ke toilet? Terus dia dateng sama Adya, katanya dia ikut ngelawan di depan?..." Mela ingin membuka suaranya namun ditahan oleh Agatha.
"Tunggu dulu, Mel. Gue belum selesai..terus waktu lo nyamperin Relda tawuran, gue bahkan Dalia melongo liat kecepatan Riri berlari, dia bisa gesit banget nendang balok kayu yang hampir kena punggung lo." Dalia dan Mela ikut berpikir apa yang dikatakan Agatha.
"Jadi kita belum bener deket sama Riri gitu maksud lo?" Tanya Mela, Agatha mengangguk.
"Gak usah ribet, entar juga kalo Riri udah siap buat cerita semuanya dia bakal cerita sendiri." Ucap Dalia, dia tidak suka yang terlalu ribet dan basa basi.
"Seenggaknya, kita sebagai temen tanya lah dikit dikit. Bukannya fungsi temen saling berbagi dan membantu ya?" Kata Agatha.
"Bener, Riri yang gue liat sih dia susah banget buat cerita. Kalo gak kita tanya, mau sampe gajah turun berat badan pun gak akan cerita tuh anak." Ucap Mela.
"Yaudah, pelan pelan aja." Kata Dalia.
Bel sudah berbunyi, semua siswa berhamburan masuk ke dalam kelas. Karena jam pelajaran pertama akan segera dimulai.
Di lapangan upacara, ketujuh pria tampan sedang berdiri berjajar menghadap tihang bendera. Tangannya mereka silangkan di belakang, dan mendengarkan ocehan dari Pak Kodrat.
"Kalian kenapa telat atuh? Udah bagus bagus buku catatan BK teh kosong. Boro bapak udah seneng, mau ngasih hadiah ke kalian." Dumel Pak Hendi menatap ketujuh pria dihadapannya.
"Hadiah apa Pak? Meni bager si Bapak repot repot segala pake kasih hadiah." Kata Rifki.
"Gak ada hadiah hadiah! Gak jadi bapak kasih."
"Pamali Pak, kalo udah mau ngasih hadiah gak boleh di ambil lagi." Ucap Akbar.
Pak Hendi menggeleng. "Sudah, kalian berdiri sampe pelajaran pertama selesai. Bapak mau cari kopi dulu. Agam, bapak titip." Ucapnya, Agam hanya mengangguk, karena hanya dia yang dipercayai oleh Pak Hendi, lalu berlalu meninggalkan mereka.
"Ah si Bapak mah modus, mau ketemu teh Santi 'kan? Inget umur Pak, padi udah lebat gitu!" Celetuk Rifki.
"Buset! Sembarangan lo kalo ngomong!" Semprot Relda, menggeplak kepala Rifki.
"Tumben si Bocin baek?" Ucap Danish, mereka menoleh tidak tahu arti dari yang baru saja Danish ucapkan.
"Apaan, Bocin?" Tanya Gio.
KAMU SEDANG MEMBACA
Double'A [END]
Novela Juvenil[ 𝘽𝙐𝘿𝘼𝙔𝘼𝙆𝘼𝙉 𝙁𝙊𝙇𝙇𝙊𝙒 𝙎𝙀𝘽𝙀𝙇𝙐𝙈 𝙈𝙀𝙈𝘽𝘼𝘾𝘼! ] BURUAN BACA SEBELUM DI REPUBLISH!!! ~ - Ketika Kita Bersahabat Dengan Sebuah Luka - Adriana Albertina, sesuai dengan namanya dia adalah wanita pemberani yang dikenal banyak masyara...
![Double'A [END]](https://img.wattpad.com/cover/230774521-64-k953281.jpg)