.
Pencarian Adriana tidak terselesaikan hingga pagi ini. Mereka tidak berhasil menemukan Adriana dan membawanya pulang bersama. Adya dan Arkan yang di baluti oleh kemarahan dan perasaan bersalah hanya bisa diam sembari berpikir keras. Begitupun dengan yang lain, mereka juga sama-sama terdiam rasa bersalah dan khawatir terus mendominasi di ruang tamu Apartement milik Arkan.
Mereka memutuskan untuk pulang dan memikirkan cara untuk bisa menemukan Adriana sebelum Albert dan Mega mengetahuinya. Adriana dan Arkan sudah hampir 3 hari tidak pulang ke rumah dan itu bisa membuat orang tuanya bertanya-tanya.
"Kenapa lo semua bisa ada disana." Adya membuka suaranya, tatapannya menatap lurus ke depan. Mereka mengerti dengan ucapan Adya yang ingin mengetahui kronologinya kenapa Agam, Gio, Relda, Akbar, Danish dan Sakti bisa ke tempat semalam.
Gio menatap Agam yang berada di depannya, laki-laki itu menganggukan kepalanya seraya menghela nafas pelan. "Kemarin malem rumah Phoenix di serang. Jendela kaca di lempari botol yang isi nya kertas. Isi dari kertas itu alamat yang semalem kita datangi kesana." Ujar Gio menjelaskan.
"Cuma alamat aja?" Tanya Rifki yang penasaran. Gio merogoh saku celananya, mengambil kertas yang kemarin dia bawa dan memberinya pada Adya.
Adya membaca isi dari kertas itu. Keningnya mengerut bingung. Arkan yang berada di sebelahnya mengambil kertas itu dan ikut membaca.
"Pembunuh sebenarnya.." Ucap Arkan pelan.
"Dan lebih parahnya, mereka lempar kita pake petasan api Dy." Kata Danish, membuat kepala Adya menoleh.
"Tapi gapapa kan?" Tanyanya sedikit khawatir.
Danish menggelengkan kepalanya. "Enggak, cuma ya furniture di ruang depan abis, ancur." Tak hanya Adya yang kaget, Rifki juga ikut menyayangkan karena peralatan yang berada di rumah Phoenix itu hasil dari uang yang mereka kumpulkan.
"Kita datengin ke alamat itu, dan Adriana udah ada disana. Kita pikir ini permainan pelakunya, dan mikir kalo Adriana pelaku dan dalang dari penyerangan tadi malem." Lanjut Gio menjelaskan.
Adya memijat pelipis seraya menghela nafasnya gusar. "Gak ada orang lain lagi selain kalian? Atau orang yang mungkin mencurigakan?" Tanya Adya.
"Enggak ada Dy. Jalanan itu sepi, dan cuma kita disana." Jawab Agam.
"Kan, lo udah tanya ke bonyok lo di rumah? Kali aja Adriana pulang ke rumahnya." Sahut Akbar berbicara pada Arkan.
"Bener juga," kata Arkan, dia mengambil ponselnya. Beberapa detik kemudian dia tersdar.
"Eh tapi, kalo gue tanya ke bonyok dan semisal Adriana kagak ada disana mereka bisa-bisa kepo dan khawatir." Ucapnya, dia tidak mau berakhir dengan dirinya di introgasi dia tidak tau akan menjawab apa.
"Ya gak harus ke bokap nyokap lo, ke orang rumah pembantu satpam gitu." Ucap Rifki mengusulkan.
Arkan mengangguk, "oke gue coba." Arkan beranjak, berjalan ke dekat pintu balkon dan mencoba menelepon orang rumah.
Mata Adya melirik orang-orang di depannya. Satu orang menarik perhatiannya sedari tadi. Relda, laki-laki itu hanya diam seraya menundukkan kepalanya dan tidak berani mengadah atau pun menatap pada teman-temannya.
Adya mengerti, tetapi lebih baik ia diamkan dulu sampai kondisi dan suasananya sedikit membaik. Relda juga butuh sendiri untuk merenungi kesalahannya. Dalam hati, Adya terus berdoa dan berharap bahwa masalah ini bisa cepat selesai dan bisa menemukan gadisnya.
Tunggu! Gadisnya? Sudut bibirnya tertarik sedikit ke atas, dia mendecih pelan lalu memejamkan matanya sambil menyandar ke sofa.
Ting Tong!
KAMU SEDANG MEMBACA
Double'A [END]
Dla nastolatków[ 𝘽𝙐𝘿𝘼𝙔𝘼𝙆𝘼𝙉 𝙁𝙊𝙇𝙇𝙊𝙒 𝙎𝙀𝘽𝙀𝙇𝙐𝙈 𝙈𝙀𝙈𝘽𝘼𝘾𝘼! ] BURUAN BACA SEBELUM DI REPUBLISH!!! ~ - Ketika Kita Bersahabat Dengan Sebuah Luka - Adriana Albertina, sesuai dengan namanya dia adalah wanita pemberani yang dikenal banyak masyara...
![Double'A [END]](https://img.wattpad.com/cover/230774521-64-k953281.jpg)