.
Cuaca di pagi ini begitu dingin, awan yang menghitam menyelimuti kota Bandung. Menandakan hujan akan turun. Hari ini waktunya Ujian kelas 12 berlangsung selama 1 minggu ke depan. Setelah mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian ini, sebagian murid tidak bersemangat karena cuaca nya yang mendukung untuk bermanja-manja di kasur.
Berbeda dengan kelima laki-laki yang sudah siap akan menghadapi ujian sekolah ini. Ujian hidup aja mereka bisa atasi. Terlihat sangat antusias, tapi tidak untuk Adya yang datar tanpa ekspresi apapun, hidupnya terasa sangat flat dan monoton.
Kalo Agam mah jangan ditanya lagi, dia tetap santuy di situasi apapun.
Danish mendesah keras, meregangkan kedua tangannya ke atas seraya menguap. "Lama banget hari minggu!" Ucapnya mengetuk-ngetukan pulpen yang dia pegang ke meja.
Adya, Agam, Akbar, Danish dan Gio berada di ruangan yang sama bersama dengan Clarissa, Agatha dan Dalia. Relda, Rifki dan Mela di ruangan yang sama sebelahan dengan ruangan mereka. Posisi duduk mereka di acak, disatukan dengan kelas lainnya.
"Baru aja senin, udah mikirin minggu aja lo!" Balas Dalia yang berada di samping kiri nya.
Danish menoleh, dan berdecak pelan. "Susah-susah ternyata euy!" Keluhnya tiba-tiba memasang wajah memelas. Tadi saja sangat bersemangat karena mendapatkan kisi-kisi, tetapi tidak semua dia tahu.
"Otak modal kisi-kisi doang ya gini nih!" Sambar Akbar di depan bangku Danish.
"Gaya lo! Kaya yang bisa aja!" Jawab Danish ketus.
"Bisa lah! Otak gue gak kopong kaya otak lo yang dijual di pasaran!" Ujar Akbar lagi.
"Otak-otak dong!" Kata Danishnya sendiri. Akbar tertawa mengangguk.
"Akbar! Danish!" Tegur Bu Siska.
"Eh iya Bu. Rileks dikit biar gak tegang!" Jawab Akbar cengengesan.
Danish terus mendesah frustasi. Sudah hampir 15 menit dirinya hanya menatap kertas ulangan di depannya dan membaca pertanyaan itu berulang.
Pelajaran pertama, bahasa Indonesia. Akan banyak paragraf-paragraf yang harus dibaca dengan teliti karena soalnya yang mengecoh. Giliran bahasa Indonesia yang gampang jika kita teliti, mau mengarang aja susah harus di pikirin. Beda dengan Matematika yang perlu di pikirkan malah mengarang dan asal begitu saja.
"Del, bagi jawaban dong." Ucap Danish berbisik sangat pelan.
Wanita di sebelahnya memasang telinga budek. Seolah-olah tidak mendengar.
"Bu Danish mulutnya gak mau diem, ganggu konsentrasi nih Bu!" Adu Dalia pada Bu Siska.
Bu Siska menatap tajam Danish. "Eng-enggak Bu! Adel nya aja yang sensi sama saya Bu!" Ucap Danish mengadu balik.
Dalia melotot, mengangkat bogeman tangannya mengisyaratkan 'Jangan macem-macem lo!'
"Danish selesaikan sendiri atau mau ibu tarik sekarang juga kertas jawabanmu?"
"Iya Bu, hapunten."
Danish berdecak, mendengus kesal. "Yo! Bagi jawaban dong Yo!" Danish sedikit memutar badannya ke belakang.
Gio mengadahkan kepala, menatap Danish dengan satu alis terangkat. "Nomer berapa?" Tanya Gio tanpa keberatan.
Senyum Danish mengembang. "Nomer, satu sampe tiga lima." Ujarnya menampilkan cengiran kuda.
"Tai!" Umpat Gio. Dikasih hati minta jantung!
"Lo ngelunjak! Dikasih ati minta ampedu!" Geram Gio, membuka kertas jawaban dan memberinya pada Danish.
KAMU SEDANG MEMBACA
Double'A [END]
Teen Fiction[ 𝘽𝙐𝘿𝘼𝙔𝘼𝙆𝘼𝙉 𝙁𝙊𝙇𝙇𝙊𝙒 𝙎𝙀𝘽𝙀𝙇𝙐𝙈 𝙈𝙀𝙈𝘽𝘼𝘾𝘼! ] BURUAN BACA SEBELUM DI REPUBLISH!!! ~ - Ketika Kita Bersahabat Dengan Sebuah Luka - Adriana Albertina, sesuai dengan namanya dia adalah wanita pemberani yang dikenal banyak masyara...
![Double'A [END]](https://img.wattpad.com/cover/230774521-64-k953281.jpg)