.
Adriana keluar dari kamar mandi. Dia menggulung handuknya di kepala. Saat mendongak, di tepi kasur Adya sudah terduduk sedari tadi menatap Adriana.
Adriana berjalan mendekati kasur, membuka sendalnya kemudian naik ke atas kasur. "Lo ngapain disini?" Tanya Adriana, dia mengambil bantal dan menyimpannya di atas paha.
Adya melirik sekilas, "rumah gue." Jawabnya.
Adriana hanya manggut, "lo pulang ke Bandung lagi kapan?"
"Besok."
Mata Adriana terbelalak. "Hah besok? Terus motor gue gimana?" Pekiknya.
Adya mengusap telinganya, "pelanin suaranya." Adriana mencebik, "ya maaf."
"Dompet, ponsel, motor di warung tadi. Lagian besok sekolah, lo mau bolos lagi?"
Adya menghela napas, berbalik menatap Adriana. "Ri Jakarta Bandung gak secepet yang lo kira."
"Gue tau. Lama karena lo nyetirnya kaya kura-kura. Lelet!"
Adya tergelak, "emang kura-kura bisa nyetir?"
Adriana mengangguk, "bisa, ini lo spesies kura-kura!" Sinisnya.
Adya menggelengkan kepalanya. "Bokap gue gak tau kalo lo ada disini. Jadi jangan keluar kamar, stay aja disini." Suruh Adya.
Adriana mendecak kesal. "Udah kek mau yang nikah, di peyem, gak ada hape lagi." Gerutunya.
Adya hanya tersenyum tipis. Baginya sifat Adriana memang berubah-ubah. Tentu tidak bisa ditebak. Kadang ngeselin, jutek, lucu dan yang paling dia suka ketika Adriana marah karena dirinya terus menjahili.
"Laptop gue nganggur mau pake?" Tawar Adya.
Adriana menggeleng, "enggak. Mending gue tidur," katanya.
"Laper enggak?" Tanya Adya lagi.
Adriana menggeleng, "enggak."
Adya manggut-manggut. "Jangan keluar diem aja disini." Adya bangkit dari duduknya, sebelum pergi dia mencubit pipi Adriana gemas.
Adriana mengadu kesakitan. Ditambah hatinya jedag-jedug, dia merasa baper. Tetapi jangan sampai semua terjadi. Dia masih trauma dengan masa lalu yang diberikan oleh mantannya.
Adriana merebahkan tubuhnya. Pikirannya saat ini adalah Albert. Apakah dia akan mencarinya? Atau Mega sudah memberitahu kepada Albert.
Dia takut Albert akan tambah marah jika tahu dirinya tidak pulang. Apalagi, ponselnya tidak ada. Membuat Mega akan semakin khawatir pastinya.
Adriana bangun, terduduk. Dia bangkit, melepas handuknya dan berjalan keluar. Bodo amat dengan perintah Adya. Dia hanya ingin meminjam ponsel laki-laki itu untuk mengabarkan keluarganya.
Adriana keluar berjalan mengendap. Tangannya memegang setiap dinding. Rumah sebesar ini tetapi kelihatannya sangat sepi. Hanya terdengar suara kolam ikan yang mengalir.
Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Terdapat beberapa pintu yang sama. Di sana paling pojok, pintu bertuliskan 'Adyastha'. Adriana mengangguk sudah pasti itu kamar Adya. Dia berjalan mendekati kamar tersebut. Kemudian mengetuknya pelan.
"Dy!" Panggil Adriana. "Adya!"
Tak lama pintu terbuka, Adriana tersenyum mengembang. "Kenapa?" Tanya Adya.
Adriana mengetuk ngetuk jarinya di dagu. "Emm, pinjem ponsel lo dong. Gue mau ngabarin bokap gue." Kata Adriana.
Adya merogoh saku celananya, mengambil benda pipih itu dan menyodorkannya pada Adriana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Double'A [END]
Novela Juvenil[ 𝘽𝙐𝘿𝘼𝙔𝘼𝙆𝘼𝙉 𝙁𝙊𝙇𝙇𝙊𝙒 𝙎𝙀𝘽𝙀𝙇𝙐𝙈 𝙈𝙀𝙈𝘽𝘼𝘾𝘼! ] BURUAN BACA SEBELUM DI REPUBLISH!!! ~ - Ketika Kita Bersahabat Dengan Sebuah Luka - Adriana Albertina, sesuai dengan namanya dia adalah wanita pemberani yang dikenal banyak masyara...
![Double'A [END]](https://img.wattpad.com/cover/230774521-64-k953281.jpg)