.
Cahaya matahari mulai memasuki cela gorden ruangan luas ini. Pasangan suami istri masih tertidur pulas di tempat tidurnya.
Suara nyaring alarm mengusik tidur mereka. Mega terbangun, dia terduduk mematikan alarm tersebut sembari menguap. Melihat jam, menunjukkan pukul 7 pagi.
Matanya melotot kaget, dia terlambat bangun. Tangannya meraih ponsel yang berada di nakas. Melihat beberapa panggilan tak terjawab dari anaknya.
"Tumben banget Arkan manggil banyak gini?" Seketika hatinya merasa resah, tidak enak.
Pikirannya masih pada Adriana, dia sudah menghubungi wanita itu tapi ponselnya sama sekali tidak aktif. Mega menelpon kembali nomor Arkan, karena tidak biasanya anak itu menelpon dirinya sebanyak itu.
Saat tersambung, Mega mulai berbicara. "Hallo Kan? Ada apa? Maaf Mami semalem udah tidur cape banget soalnya." Ucap Mega berdiri, dia berjalan mengambil sendal rumah yang berada di belakang pintu.
"Enggak apa-apa Mi. Akan cuma mau kasih kabar.."
"Kabar apa? Kamu baik-baik aja 'kan?"
"Akan baik-baik aja Mi," helaan napas terdengar di sebrang sana, "Ini tentang Adriana, dia kecelakaan Mi, sekarang Akan lagi di rumah sakit PK." Suara Arkan terdengar sangat parau, dia masih merasa bersalah.
Mega shock, dia meraba pintu mencari penahan. "Jangan bohongin Mami Arkan! Emang kamu kenal Adriana?!" Sentak Mega, "Mi, nanti Akan cerita ke Mami..maaf ini semua gara-gara Arkan. Akan gak bisa jagain Riri." Tubuh Mega merosot ke bawah, dia tidak bisa menahan tubuhnya lagi.
Albert terusik mendengar suara Mega. Dia terbangun, terkejut melihat Mega terduduk di belakang pintu ia langsung bangkit dan menghampiri sang istri.
"Kamu kenapa?" Khawatir Albert, Mega menggeleng, "Riri Mas.." Ucapnya.
"Kenapa Riri?" Tanya Albert, dia ikut panik karena melihat ekspresi Mega.
Albert mengambil ponsel yang berada di tangan Mega. "Hallo? Siapa ini? Riri mana?" Tanya Albert.
"Maaf Om, pagi-pagi saya harus memberitahu kabar buruk. Sebelumnya, perkenalkan saya Arkan putra dari Mami Mega."
"Oh nak Arkan, kabar buruk apa?"
"Ri Riri Om, Riri kecelakaan. Sekarang saya lagi di rumah sakit."
Albert sama terkejutnya, dia terdiam tidak bisa berkata. "Ke cela kaan?" Tanya Albert, terbata bata.
"Iya Om, kalo bisa sekarang juga kesini. Dokter butuh persetujuan dari orang tua pasien."
"Iya iya, tunggu disana. Tolong jaga Adriana. Saya dan Mami kamu akan segera kesana." Arkan mengiyakan, setelah itu sambungan terputus.
Albert melirik Mega, dia langsung memeluknya. "Aku takut Mas.." Albert mengusap kepala Mega, menenangkannya. "Kamu tenang aja, Riri pasti kuat. Kita berdoa semoga Adriana tidak apa-apa. Sekarang siap-siap, kita pergi pagi ini juga?" Mega mengangguk.
****
Dokter yang menangani Adriana sudah keluar sejak subuh tadi. Dokter memberitahu bahwa dia perlu bicara dengan keluarga dari pasien. Arkan dan Adya pun tidak bisa memutuskan.
Sekarang Adriana sudah di pindahkan ke ruangan inap. Tetapi masih belum bisa di kunjungi. Demi kesembuhan Adriana. Arkan dan Adya menunggu di depan ruangan Adriana. Keduanya sama-sama terdiam, tidak beranjak dari kursi penunggu itu. Untuk pergi mengisi perut pun tidak, perkembangan Adriana lebih penting, katanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Double'A [END]
Teen Fiction[ 𝘽𝙐𝘿𝘼𝙔𝘼𝙆𝘼𝙉 𝙁𝙊𝙇𝙇𝙊𝙒 𝙎𝙀𝘽𝙀𝙇𝙐𝙈 𝙈𝙀𝙈𝘽𝘼𝘾𝘼! ] BURUAN BACA SEBELUM DI REPUBLISH!!! ~ - Ketika Kita Bersahabat Dengan Sebuah Luka - Adriana Albertina, sesuai dengan namanya dia adalah wanita pemberani yang dikenal banyak masyara...
![Double'A [END]](https://img.wattpad.com/cover/230774521-64-k953281.jpg)