Alden layaknya seorang penyihir jahat, yang berhasil melepaskan kutukannya pada Annavia- sang mantan pacar, sekaligus sahabatnya sejak masih kecil. Mereka pernah menjalin hubungan semasa SMA, tapi tiba-tiba saja putus karena Alden secara terang-tera...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Aku kangen kamu, Vi. Bahkan saat kamu ada di samping aku seperti ini."
****
"GUE lagi di Campus Night Run, Yum. Sebelum jam sepuluh, gue bakalan di sana. Tenang aja." Terang Nathan pada Yumi yang sedang menelponnya dan menanyakan keberadaannya.
Tahu Yumi akan mengomel, Nathan langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya sambil memejamkan kedua matanya dengan wajah meringis.
Malam minggu ini, mereka berempat sudah berencana berkumpul di rumah Yumi. Kedua orang tua Yumi sedang melakukan perjalanan dinas ke luar kota, itulah kenapa Yumi memaksa 'antek-anteknya' untuk menemaninya malam itu juga.
Dan seharusnya saat itu, Nathan tidak pergi kemana-mana karena harus membantu yang lainnya menyiapkan segala sesuatunya, tapi Nathan justru melarikan diri, dan mengikuti Campus Night Run yang memang rutin diselenggarakan setiap tahun untuk semua mahasiswa dari seluruh kampus yang memang berminat mengikutinya.
Di tengah-tengah omelan Yumi yang cukup memekakkan telinganya, perhatian Nathan tahu-tahu tertuju pada seorang gadis yang sedang melakukan pemanasan tidak jauh dari posisinya sekarang.
Dalam pandangan Nathan, gadis itu sebenarnya tampak biasa saja dan bukan tipe Nathan sama sekali, hanya saja sesuatu telah menarik perhatiannya dan membuatnya merasa sedikit terganggu.
Nathan kemudian mematikan sambungan teleponnya, dan mendekat ke arah gadis bernomor dada 301 itu secara perlahan.
Karena tidak tahu harus mengatakan apa sebagai pembuka, Nathan hanya berdiri di tempatnya dengan raut kebingungan dan sesekali berdeham.
Dan hal yang Nathan lakukan itu, tentu saja membuat gadis 301 menoleh kepadanya dengan pandangan bertanya.
"Hay!" Sapa Nathan dengan canggung seraya melambaikan tangannya.
Gadis 301 yang ternyata adalah Safira itu, kini merasa heran dengan gelagat cowok aneh yang ada di sampingnya sekarang. Merasa bahwa pemuda itu bukan orang baik-baik, Safira memutuskan untuk menjauh. Namun baru saja ia akan melangkah pergi, Nathan buru-buru menghalangi jalannya, dengan berdiri tepat di sampingnya seakan menutupi sesuatu.
"Elo siapa? Kenapa ngikutin gue?" Tanya Safira pada akhirnya yang diam-diam merasa takut, tapi tetap berusaha terlihat tenang.
Nathan menggigit bibir bagian dalamnya. Ia semakin kebingungan bagaimana harus memulai agar gadis itu tidak merasa malu. Nathan kemudian menggaruk belakang tengkuknya. Perlu dicatat! Dia tidak pernah merasa secanggung ini sebelumnya.
"Gue minta maaf sebelumnya, t—tapi... emm..."
"Apa sih?" Safira semakin merasa terganggu.
Sementara Nathan sudah buntu sekarang. Ia tidak mampu mengeluarkan satu kata pun untuk menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan.