Bab 33. Hantaman Badai

175 10 71
                                    

Bab 33. Hantaman Badai

"Badai itu datang memberikan hantaman, seolah ingin membuktikan bahwa tidak ada jalan pintas untuk sebuah kebahagiaan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Badai itu datang memberikan hantaman, seolah ingin membuktikan bahwa tidak ada jalan pintas untuk sebuah kebahagiaan. Bahkan drama penuh romansa pun tidak akan bisa terhindar dari air mata dan luka. Semua harus dihantam badai agar tahu seberapa kuat cinta yang mereka percayai itu."


****

DELAPAN hari berlalu sejak hari di mana Niskala menyampaikan niatnya ingin menikahi Yumi. Namun selama delapan hari itu pula, Yumi enggan menemuinya bahkan untuk sekedar menghubunginya terlebih dulu. Jika pun Niskala yang menghubunginya, Yumi hanya akan merespon seadanya, dan berdalih dia sedang disibukkan oleh banyak tugas kampus hingga tidak bisa bertemu dengan kekasihnya itu.

Merasa bosan dengan sikap Yumi yang tidak jelas, Niskala merasa perlu untuk memperjelas dan mempertegas posisinya. Berangkat dari hal itulah, Niskala sudah menunggu Yumi sejak pagi-pagi buta di depan rumahnya. Niskala melakukan itu agar Yumi tidak lagi memiliki alasan untuk menghindarinya.

Tepat pukul setengah sembilan pagi Yumi keluar dengan mobilnya. Tanpa ingin membuang waktu percuma lagi, Nathan langsung menghalangi laju mobil Yumi yang baru saja keluar dari gerbang rumahnya.

"Kak Kala?" Ucap Yumi setengah memekik karena benar-benar merasa terkejut dengan kemunculan Niskala yang secara tiba-tiba.

Kalau tidak berhati-hati, Yumi pasti sudah menabrak pria bermata lebar itu.

"Keluar! Aku perlu ngomong sama kamu."

Niskala mengetuk kaca mobil Yumi, lalu menatap gadis itu dengan pandangan tajamnya yang selalu berhasil membuat Yumi merasa ciut.

Begitu Yumi membuka pintu mobilnya, Niskala dengan gerak cepat membantu membuka safety belt, lalu menarik pergelangan tangannya.

"Pak, tolong masukin mobil Yumi. Dia bareng saya." Kata Niskala pada satpam yang menjaga rumah Yumi dengan nada dinginnya.

Setelah berada di dalam mobil Niskala, Yumi sama sekali tidak memiliki keberanian untuk membalas tatapan Niskala yang membekukan.

"Kamu nggak biasanya kayak gini, Ay. Apa kamu sebegitu nggak mau nikahnya sama aku? Hm?"

"Aku bukan nggak mau, Kak. Aku cuma belum siep. Umur aku sekarang baru 24 tahun. Target menikah aku masih jauh."

"Then why you didn't say that in the first place? Kenapa terus menghindari aku seolah menikah dengan aku adalah mimpi buruk buat kamu?"

"Aku salah, Kak. Aku minta maaf." Lirih Yumi dengan segala kerendahan hati.

Ia juga menyesal karena sudah memperlakukan Niskala dengan cara yang sangat menyebalkan selama delapan hari ini.

"Kamu belum siep nikah sekarang nggak jadi masalah buat aku. Kamu siep nikah di umur 30-an, tapi kamu nggak mau punya anak juga nggak masalah. Bahkan kalau memang kamu nggak mau menikah sama sekali pun, It's okay, Ay. Tapi aku mohon kamu ngomong. Segala sesuatunya bisa kita diskusiin dengan pikiran terbuka, bukan malah kamu main kucing-kucingan kayak gini."

Kutukan Cinta PertamaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang