Alden layaknya seorang penyihir jahat, yang berhasil melepaskan kutukannya pada Annavia- sang mantan pacar, sekaligus sahabatnya sejak masih kecil. Mereka pernah menjalin hubungan semasa SMA, tapi tiba-tiba saja putus karena Alden secara terang-tera...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Maafin aku, Vi... Tapi aku harap kamu bisa lihat hati Kak Rei dan nerima dia. Kak Rei lebih dari sekedar pantas buat kamu. Tolong lihat dia..."
****
"KAK Ann, ayo turun!" Ucap salah seorang anak kecil pada Annavia yang saat itu sedang terperangkap di atas pohon setelah menyelamatkan seekor kucing.
Alden yang kebetulan lewat di depan playground itu, mengurangi kecepatan mobilnya setelah dari kejauhan tadi ia merasa melihat Annavia sudah bertengger di atas pohon dengan seekor kucing dalam dekapannya. Alden kemudian menghentikan mobilnya, "lo ngapain di situ, Vi?"
Annavia hanya cengengesan sambil menggaruk kepalanya dengan satu tangannya yang bebas. Dan mendadak, adegan itu membuat Alden merasa seperti déjà vu. Bertahun-tahun lalu, saat mereka masih duduk di bangku kelas 6 SD, Annavia juga pernah terjebak di atas pohon seperti hari ini demi menyelamatkan seekor kucing.
"Kak Ann habis nolongin kucing aku, Kak. Tapi sekarang Kak Ann nggak tahu gimana cara turunnya." Jawab anak kecil tadi, yang langsung mendapatkan anggukan polos dari empat temannya yang lain.
Alden berdecak sedikit kesal. Kadang, sikap sok pahlawan Annavia inilah yang paling dibencinya. Alden lantas keluar dari dalam mobilnya sembari membanting pintu. "Lagian aneh-aneh aja, sih. Udah tahu cuma bisa manjat, tapi nggak bisa turun, kenapa masih nekat manjat? Kenapa nggak inisiatif buat nyari bantuan, atau nyari tangga? Ini bukan pertama kalinya, ya, Vi, lo kejebak di atas pohon kayak gini. Gue tahu kapasitas otak lo kecil, setara sama otak ayam, tapi seenggaknya lo bisa belajar dari kesalahan yang udah-udah." Omel Alden panjang lebar.
"Kak Alden, jangan marahin Kak Ann!!" Anak kecil tersebut kembali buka suara, kali ini sambil menunjukkan wajah garangnya di hadapan Alden.
Alden berdeham pelan dengan wajah bersalah. Jika bukan karena bocah-bocah ini, Annavia pasti sudah habis kena omelan Alden —seperti biasa.
"Sekarang loncat, gue tangkep!" Gagas Alden dengan kedua tangan terulur, bersiap-siap untuk menangkap gadis menyebalkan itu.
Annavia menggeleng, ia tampak ketakutan.
"Gue bilang loncat!! Lagian ini pohon nggak setinggi itu. Sekali pun lo jatoh, paling cuma keseleo!"
Kelima anak kecil itu dengan kompak menatap tidak suka ke arah Alden. Bagi mereka sekarang, Annavia adalah superhero, dan Alden penjahatnya.
"Gue bisa turun sendiri!" Balas Annavia dengan ketus.
Namun ketika baru saja ia menggerakkan salah satu kakinya, ia malah terpeleset, dan jatuh ke bawah. Untungnya Alden dengan sigap menangkap.
"MAMAAA!!" Jeritnya refleks. Sebelah tangannya mencengkram kuat jaket Alden.
Alden memutar kedua bola matanya, jengah. "Lo berat, Anapia! Buruan turun!!"