Alden layaknya seorang penyihir jahat, yang berhasil melepaskan kutukannya pada Annavia- sang mantan pacar, sekaligus sahabatnya sejak masih kecil. Mereka pernah menjalin hubungan semasa SMA, tapi tiba-tiba saja putus karena Alden secara terang-tera...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kalau kamu nggak mau bangun juga sampai besok, aku nggak akan mau hidup lagi, Al."
****
Desember, 2018
BEGITU menerima kabar bahwa Alden mengalami kecelakaan, pada dini hari itu juga Annavia—yang selama beberapa hari ini bersembunyi di rumah Windy langsung pergi ke rumah sakit untuk menyusul Alden. Karena panik dan terlalu terburu-buru, Annavia tidak sempat mengganti piayama tidurnya. Annavia bahkan tidak sadar ketika ia hanya menggunakan sandal kamarnya. Salah satu sandalnya entah terlepas di mana karena Annavia berlari kencang memasuki gedung rumah sakit dari parkiran, tapi yang jelas saat itu Annavia hanya mengenakan sebelah sandalnya dan sukses membuatnya menjadi pusat perhatian beberapa orang di rumah sakit itu.
"Kak Rei, Alden... Alden..." Ucap Annavia dengan terisak seraya berusaha mengatur jalan nafasnya yang berantakan.
Reiga memegang kedua tangan Annavia. Hati Reiga pun terenyuh saat secara tidak sengaja melihat penampilan Annavia yang cukup memilukan saat itu.
"Alden sedang dioperasi. Dia mengalami cedera otak, tapi Dokter belum bisa memastikan apapun sebelum operasinya selesai."
Tubuh Annavia langsung ambruk di hadapan Reiga. Tangisnya pun semakin kencang dan tidak terkendali. "Ini semua salah aku. Kalau saja aku nggak ninggalin Alden, Alden nggak perlu sehancur ini. Kalau saja aku nggak egois, Alden nggak akan terbaring di ruang operasi dan mempertaruhkan nyawanya. Aku sudah kehilangan Papa dan Mama karena kecelakaan mobil, dan sekarang aku nggak mau kehilangan Alden juga karena sebab yang sama."
Reiga duduk di hadapan Annavia seraya memegang kedua bahunya dan menatap intens pada kedua mata wanita itu, "Via, hey! Lihat Kak Rei, hm?"
Karena Annavia tidak juga mengikuti permintaannya, Reiga pun mengangkat dagu Annavia hingga mata mereka saling bertemu satu sama lain. Reiga lalu mengusap air mata Annavia dengan ibu jarinya, "Alden kuat. Alden jauh lebih kuat dari yang kita tahu. Alden pasti baik-baik saja. Kamu percaya sama Alden, kan, Vi?"
Tidak berselang lama, Sadewa dan Faradina juga tiba di rumah sakit dengan kondisi yang tidak kalah paniknya. Reiga kini beralih dan berusaha menenangkan kedua orang tuanya.
Sebenarnya Reiga juga sama kacaunya seperti yang lain. Reiga takut dengan segala kemungkinan terburuk yang musti mereka hadapi perihal Alden. Namun Reiga tahu, bahwa dia tidak bisa menunjukkan kelemahannya dan harus menguatkan semua orang. Untuk saat ini, hanya Reiga yang bisa melakukannya.
Reiga keluar dari rumah sakit untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia kembali sambil membawa sebuah paper bag. Pandangan Reiga pun langsung mengarah pada sosok Annavia yang ketika itu sedang menunggu Alden yang masih bertaruh di dalam ruang operasi. Annavia tertunduk lesu di ruang tunggu dengan kedua pundak yang bergetar menahan tangisnnya. Tanpa berlama-lama lagi, Reiga menghampirinya sambil membuka jaket yang ia kenakan lalu memasangkannya pada tubuh Annavia yang saat itu hanya menggunakan piyama.