Alden layaknya seorang penyihir jahat, yang berhasil melepaskan kutukannya pada Annavia- sang mantan pacar, sekaligus sahabatnya sejak masih kecil. Mereka pernah menjalin hubungan semasa SMA, tapi tiba-tiba saja putus karena Alden secara terang-tera...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Masa lalu yang belum selesai, akan selalu mencari celah untuk kembali. Entah untuk menuntut usai, atau untuk memilikimu sekali lagi."
****
"ALDEN!"
Alden yang saat itu sedang menunggu Annavia mengangkat telfonnya, langsung menoleh begitu satu suara lembut memanggil namanya. Saat ia berbalik, senyuman di wajahnya pun lantas membeku dalam sepersekian detik. Nyawanya seakan lepas dari tubuhnya dan hanya meninggalkan raga kosong di tempat itu.
Ketika sepasang langkah kaki itu itu semakin mendekatinya, Alden merasa nafasnya tercekat. Tatapan mata itu, senyuman itu, wajah itu, bahkan aroma parfum itu ternyata masih begitu familiar baginya dan jauh dari kata asing meski bertahun-tahun hilang dari hidupnya.
"Hay, Alden Danadyaksa! Apa kabar? Senang ketemu kamu lagi." Sapanya setelah berdiri tepat di hadapan Alden dalam jarak yang cukup dekat.
Alden masih kehilangan kesadaran. Ia juga kehilangan kemampuan untuk bersuara. Yang menyentakknya kemudian adalah; apa yang ada di depannya sekarang bukanlah bayangan atau mimpi, melainkan sebuah kenyataan.
Melihat Alden yang tidak bereaksi sama sekali dan hanya terpaku di tempatnya, gadis itu akhirnya mengantarkan dirinya ke dalam pelukan Alden.
"Aku tahu ini agak mengejutkan buat kamu. Tapi... aku sangat merindukan kamu, Alden!" Ujarnya sambil menenggelamkan wajahnya dalam dada Alden yang ia rasakan begitu kaku. Ia juga tahu, bahwa Alden bahkan tidak memiliki keinginan sedikit pun untuk membalas pelukannya.
Tetapi ia memilih untuk tidak peduli, dan menjadi egois setengah mati.
Sebulir air matanya ia biarkan lolos. Setelah tiga tahun, ia akhirnya dapat bernafas dengan cara yang seharusnya.
Greeta Renata Lee. Dia telah kembali.
Mengkhianati perintah otaknya, kedua tangan Alden secara perlahan terangkat hendak membalas pelukan Greeta. Namun sedetik berikutnya, kesadarannya kembali lagi dan menyentakknya hingga dengan penuh kesadaran melepaskan diri dari rengkuhan gadis itu. Salah satu tangannya terkepal kuat-kuat dengan pandangan mata yang penuh dengan kilat-kilat kemarahan.
"Al?" Lirih Greeta dengan mata berkaca-kaca.
Sebelumnya ia sudah meyakinkan diri untuk menerima apapun bentuk respon yang akan Alden berikan padanya. Namun nyatanya semuanya tidak berjalan sesuai keinginanya. Hatinya tetap saja terasa sakit saat dengan jelas Alden menunjukan penolakan yang cukup keras dan tegas padanya.
Lalu tanpa mengatakan apapun, dengan emosi tertahan Alden berlalu pergi dari hadapan Greeta dan tidak menoleh sedikit pun padanya.
Greeta terkulai lemas dengan linangan air mata yang kian deras menetes. Tetapi tekadnya sudah sangat bulat untuk tidak menyerah begitu saja. Tiga tahun lamanya dia menunggu untuk hari ini, sekarang bagaimana bisa dia menyerah dengan mudahnya saat pria yang dirindukannya selama ini sudah berada dalam jangkauan dan jarak pandangnya?