“Woo,”
Haruto menyembulkan kepala dari arah luar kamar miliknya dan Jeongwoo. Padahal tinggal buka pintu lagi dikit, terus masuk ke dalam biar lebih gampang ngomong sama si tunangan manisnya, tapi Haruto memilih cara lain.
Iya, itu. Nyembulin kepala dari luar pintu kamar yang cuma dibuka sedikit aja.
“Kenapa Haru? Masuk aja kenapa deh. Ngapain coba disitu?”
Jeongwoo menoleh dengan dahi berkerut. Bingung dengan tingkah di bungsu Kim satu itu. Aneh banget gitu loh.
Haruto nyengir, menunjukkan gigi-gigi putihnya tanpa berniat menjawab pertanyaan Jeongwoo atau masuk ke dalam kamar.
“Keluar yuk? Hehe,”
Dahi Jeongwoo semakin berkerut. Kenapa tiba-tiba ngajak keluar?
“Belajar aja sini. Abis ujian sekolah kelas dua belas, kita bakal langsung UAS, loh, Ru.”
Haruto malah semakin tersenyum lebar.
“Nah, itu!” katanya dengan semangat. “Kita belajarnya di luar. Mau, gak?”
“Hah? Lo ngajak belajar di halaman belakang? Atau di ruang tengah?”
Haruto menggelengkan kepala, kembali nyengir lebar bikin yang lebih muda berdecak kesal. Mulai hilang sabar dengan Haruto yang hanya mengulur waktu.
“Ya, di luar mana maksudnya Haruuu? Mau di perpus rumah? Kan udah ada Doyoung sama Kak Yedam di sana,” Jeongwoo bersandar pada kursi belajarnya, menatap Haruto dengan malas.
“Keluar rumah. Kita study date di kafe. Diajak Bang Jae tuh, soalnya Kak Asahi dari kemarin mendekam di kamar terus sama bukunya. Mau ya?”
Jeongwoo sempat terkekeh begitu melihat ekspresi Haruto yang memelas sekali.
“Ya udah, ayo.” Lelaki April mengepalkan tangan sambil mengatakan 'yes' pelan. “Lo siapin buku sana. Bawa laptop satu aja bareng gue. Tapi tas lo bawa sendiri,”
“Okay!”
Barulah setelah itu, Haruto masuk ke dalam kamar mereka. Dengan semangat memilih buku mana yang sekiranya harus dibawa.
Sempat berdiskusi dengan Jeongwoo sebentar tentang materi apa yang akan mereka pelajari, karena keduanya sepakat akan belajar bersama dengan satu laptop. Jadi sudah semestinya mendiskusikan apa yang akan mereka pelajari.
“Udah?”
Jeongwoo menoleh, sambil menggendong tas ransel hitamnya dipunggung. “Udah.”
“Oke, ayo!”
Haruto menggenggam tangan Jeongwoo pelan, kemudian keduanya berjalan keluar kamar untuk menuju garasi; di mana Jaesahi katanya sudah menunggu.
“Widih, mau kemana nih gandengan tangan sambil bawa tas? Kabur ya?”
Baru saja menginjakkan kaki di lantai bawah, sebuah suara muncul dari arah dapur.
“Iya, kita mau nikah muda.”
Punggung Haruto langsung digeplak sama Jeongwoo, namun lelaki itu hanya terkekeh.
“Nikah muda gak gampang bro. Mau nafkahin adek gue pake apa lo? Masih bocah juga,”
Iya, yang ngomong itu Jihoon. Ada Junkyu juga di dapur. Keduanya lagi duduk di meja makan, sambil minum sesuatu yang keliatannya seger. Bukan alkohol, tenang aja.
Mentang-mentang udah selesai Try Out minggu lalu, dua makhluk titisan setan itu bukannya ngambis kayak adek adeknya yang jadwal UAS bahkan belakangan dari jadwal Ujian Sekolah, dua bujang ini malah asik leha-leha.
KAMU SEDANG MEMBACA
Home || Treasure
RandomWarn! Lapak bxb! Mpreg! Homophobic dni! *** Ketika enam cucu kesayangan Kakek Kim di jodohkan dan di perintahkan untuk tinggal di satu rumah yang sama dengan tunangan mereka. *** "INI HUBUNGAN GUE SAMA GON GIMANA DONG KALAU DI JODOHIN?!" "Terima...
