Hari-hari biasa, terlewati begitu saja di Rumah Trejo.
Kegiatan seperti, bangun tidur - belajar - tidur lagi. Tentu saja dengan makan sebagaimana makhluk hidup pada umumnya, diselingi bermain bagi yang masih berada di kelas sebelas dan sepuluh.
Semakin hari, semakin mendekati hari ujian, suasana di rumah itu terasa semakin berbeda.
Mungkin, Junghwan adalah salah satu sosok yang merasakan hal itu dengan kentara. Entah karena memang dia yang memiliki kepekaan lumayan tinggi, atau karena memang suasana rumah yang demikian.
Tapi serius, rumah mereka tidak lagi seramai dulu.
Mungkin faktor para tetua lagi sibuk belajar buat ujian, kali ya.
"Huft," helaan napas Junghwan terasa begitu berat,
Minggu malam, lelaki yang saat itu hanya memakai kaos abu-abu tipis lengan pendek dan celana kain sejajar lutut, sedang duduk sendirian di halaman belakang rumah. Hanya ditemani secangkir coklat panas dan sebungkus biskuit.
"Muka lo kusut banget dah, kayak lagi bawa beban negara." Tak lama, Jihoon menghampiri sahabat adiknya itu. Dengan outfit yang sekiranya mirip sama Junghwan, hanya warna saja yang berbeda. Jihoon memakai baju kaos putih.
"Gak sampe beban negara juga sih,"
Junghwan terkekeh pelan, diiringi gelengan kepala kecil.
"Ya muka lo seriusan kusut gitu njir. Ada apa nih adekku? Sini cerita sama gue,"
"Dih, siape adek lu? Gue kalo disuruh trial nyobain jadi adek lu semenit aja bakal langsung nyerah,"
"Sialan emang anaknya Bapak Junedi ini,"
Tawa keduanya menggelegar di tengah sunyinya malam. Tenang, gak bakal ganggu yang lain kok.
"Serius deh, Hwan. Lo kalo ada masalah, cerita aja. Kayak biasanya,"
Junghwan diam. Lelaki itu mengalihkan kepala menatap Jihoon yang kini tengah tersenyum seperti hari-hari di mana biasanya ia mencurahkan isi hati saat ada sesuatu yang mengganjal.
"Haah, gue cuma lagi gak paham sama situasi sekarang." Junghwan mulai berbicara, "maksudnya tuh, iya gue tau kok kalian yang kelas dua belas lagi pada sibuk buat ujian, tapi lo sadar gak, sih?"
Jihoon kini sepenuhnya memperhatikan yang lebih muda, membiarkan Junghwan mengeluarkan semua keluh kesahnya.
"Rumah kita jadi makin sepi, Bang. Bahkan yang lain malah sibuk sendiri, atau sibuk sama pasangan buat ngebucin. Kayak, gimana ya bilangnya? Pokoknya tuh, gue ngerasa makin kesini, suasana rumah jadi makin sunyi." Junghwan narik napas sejenak.
"Gue gak terlalu mempermasalahkan waktu yang gue sama Kak Yoshi habisin jadi makin dikit. Gue udah paham dari awal bakal ada konsekuensi begini karena kita beda tingkat kelas. Tapi yang gue sayangkan, kenapa yang lain juga jadi mulai agak jauh?"
Butuh waktu beberapa saat sampai Jihoon berhasil menenangkan diri setelah Junghwan mengakhiri kalimatnya. Jihoon tidak pernah berpikir Junghwan akan merasa seperti itu.
"Oke, Hwan, makasih udah mau ceritain unek-unek lo. Ini out of my expectation banget," Jihoon mulai buka suara, "tapi gak papa. Wajar kok lo ngerasa begini, karena gue juga mulai ngerasa yang sama. Even tadi kita makan malam bareng, but like you said earlier, some things feel different."
"Tapi gue bisa yakin satu hal," Jihoon menatap Junghwan tepat di mata, sambil menepuk pundak yang lebih muda, "mereka gak ngejauh, kita gak bakalan jadi orang asing. Karena emang sejak awal kita udah lebih dari sekedar keluarga, kan? Lo cukup percaya aja sama mereka. That one day, everything's gonna be okay and will be back as it should."
KAMU SEDANG MEMBACA
Home || Treasure
RastgeleWarn! Lapak bxb! Mpreg! Homophobic dni! *** Ketika enam cucu kesayangan Kakek Kim di jodohkan dan di perintahkan untuk tinggal di satu rumah yang sama dengan tunangan mereka. *** "INI HUBUNGAN GUE SAMA GON GIMANA DONG KALAU DI JODOHIN?!" "Terima...
