Home 89 - Masih Perang Dingin

2K 265 7
                                        

"Ini Kak Yoshi sama Bang Junkyu masih belum mau saling ngobrol kah? Udah mau seminggu loh, kita bahkan udah selesai UAS."

Jumat siang, hari terakhir jadwal UAS anak-anak kelas sepuluh dan sebelas, delapan manusia yang baru saja menyelesaikan perang itu masih diam beberapa saat di area sekolah tepatnya kantin. Katanya perlu asupan makanan karena terlalu banyak menguras energi waktu memikirkan jawaban.

Yang mengajukan tanya di atas adalah Yedam. Agaknya mulai terheran-heran karena ternyata perang dingin di rumah trejo masih berjalan, belum mendapat celah untuk melakukan perdamaian.

Doyoung di sampingnya menggelengkan kepala. "Masih sama. Caranya Kak Hyunsuk yang biasanya ampuh tuh sekarang malah gak mempan. Dia sampe nyerah dan milih buat gak peduli lagi,"

Mashiho yang duduk diseberang Yedam menghela napas panjang. Es krim vanila di tangan tiba-tiba berubah rasa jadi coklat. Enggak, becanda. Ya kali anjir, serem banget.

"Cio mau coba omongin sama Kak Ajun tentang masalah ini, tapi gak pernah berani. Tiap liat muka Kak Ajun yang lagi serius begitu, Cio malah jadi ciut duluan. Serem tau," katanya.

Jeongwoo disebelahnya menganggukkan kepala setuju, memang benar kalau Junkyu yang sedang serius dan dalam mode maung itu seribu kali lebih menyeramkan dari kakaknya—Jihoon. "Asli, bener banget Kak! Gue mau jalan di depan dia aja rasanya pengen bungkukin badan sambil minta maaf. Padahal ya gue gak salah apa-apa,"

Haruto terkekeh mendengar perkataan Jeongwoo. Aduh, gemes banget. Pengen dia uyel-uyel pipinya, terus dia ciumin. Tapi masih di area sekolah, nanti aja deh pas udah pulang.

"Gimana kalo kita aja yang bikin mereka baikan?"

Semua mata tertuju pada Junghwan yang lagi sibuk makan es krim stik rasa coklat kacang.

"Caranya?"

Tunangan Yoshi itu menampilkan senyum lebar. Kemudian memaparkan rencananya pada semua manusia di sana. Membuat mereka ikut tersenyum lebar, menyetujui rencana Junghwan.

"Bagus! Kayaknya ini bakal berhasil,"

Junghwan mengangguk bangga.

"Harus berhasil. Mereka tuh sebenarnya udah pengen baikan, keliatan kok dari tiap hari kebelakang ini mereka hampir keceplosan ngomong satu sama lain. Tapi gengsinya, tuh, gede banget. Pokoknya kita coba aja rencana gue yang tadi,"

"Oke!"








***







"Heh, Kyu!"

Beralih ke rumah trejo, empat penghuni yang tersisa sedang asik dengan kegiatan masing-masing. Awalnya Hyunsuk, Jihoon dan Yoshi sedang menonton film di ruang santai, sambil nyemil kripik kentang yang entah punya siapa.

Lalu kedatangan Junkyu yang dengan santai berjalan dari arah tangga lantai dua, membuat Hyunsuk langsung memanggilnya.

Dia sebenarnya sudah lelah membuat dua sepupunya baikan. Kasian penghuni yang lain jadi ikut kena imbas cuma karena ulah dua manusia jompo itu.

Junkyu yang siang itu mengenakan hoodie putih besar dan celana bahan berwarna hitam, menghentikan langkah. Tatapannya beralih ke ruang santai, sambil menaikkan alis menyahut panggilan Hyunsuk.

"Sinilah, gabung."

Junkyu diam saja di tempat, tapi matanya tidak berhenti melirik Yoshi yang duduk di sofa memakan kripik dengan anteng. Tidak sekalipun menoleh, mungkin hanya sesekali melirik lewat ekor mata.

Junkyu tidak tahu saja bagaimana di dalam pikirannya Yoshi tengah berperang dengan akal sehat dan hati nurani.

Pengen ngajak ngobrol, atau sekadar minta maaf lebih dulu dan memilih untuk mengalah saja, tapi dia malu. Harusnya Junkyu duluan yang minta maaf, kan dia itu cowok kul. Atau udah banting setir?

Home || TreasureCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang