Sudah tengah malam dan Sean masih setia diatas motor barunya menunggu seseorang yang mungkin akan keluar. Sean sudah didepan apartemen milik Haidar sekitar satu jam yang lalu.
Rasa kantuk dan pegal diseluruh tubuhnya karena kurang istirahat tak membuatnya menyerah begitu saja. Urusan Jake nomor satu. Bagaimana dirinya bisa membiarkan pacarnya mabuk dengan pria lain?
Tiga puluh menit berlalu dan benar, terlihat tiga orang yang berjalan sempoyongan. Dua orang merangkul dan terlihat satu yang ditengah sudah lemas. Sean tahu betul itu pacarnya.
Ia langsung berlari menghampiri tak peduli jika akan berurusan lama dengan Haidar.
"Biar aku aja yang nganterin pulang" ucapnya meminta ijin.
Haidar dan Nathan saling bertatapan, Haidar tersenyum miring lalu mendorong begitu saja orang yang tengah dirangkulnya. Haidar mendorong Jake seperti barang saja membuat Sean sedikit emosi.
"Ck, Haidar!" Bentak Sean menangkap sang pacar yang sudah tak sadarkan diri.
Sean langsung melingkarkan sebelah tangannya dipinggang Jake dan menyandarkan kepala Jake dipundaknya.
"Urusan lo apa sih kesini?" Haidar tersebut emosi.
"Kayak jalangkung aja dateng nggak diundang" Nathan menambahkan.
"Urus noh temen lo nyusahin!"
Jelas Sean emosi ketika pacarnya dianggap 'menyusahkan' namun apa boleh buat jika diposisi pacarnya sedang tak sadarkan diri. Ia harus segera membawanya pulang.
Sean mengangkat tubuh mungil itu dan ia posisikan seperti koala. Haidar menatap jijik keduanya.
"Lain kali jangan ngajak yang nggak bener" ucap Sean diikuti langkahnya yang mulai menjauh.
Haidar ingin meninju kepala Sean jika saja tidak ditahan oleh Nathan.
"Brengsek yang ngajak bocah tuh siapa?! Gausah sotoy lo"
Sean membopongnya dengan penuh kasih sayang sambil ia ucap bagian belakang punggungnya. Ia sengaja mengharapkan Jake ke belakang agar lebih mudah untuk menyetir dan menjaga agar tidak jatuh tiba-tiba.
Sean melajukan kendaraannya membelah jalan yang begitu sepi dan terasa sangat dingin. Sesekali tangan kirinya mengusap surai hitam milik pacarnya. Wajahnya begitu polos namun berantakan.
Sengaja ia bawa ke rumah karena diposisi mabuk pasti akan membuat geger keluarganya. Sean memikirkan motornya disamping dan perlahan mengangkat tubuh mungil itu dan sebisa mungkin untuk tidak membuat banyak gerakan.
Ia bawa kekamarnya dan membaringkan secara perlahan. Begitu dirinya ingin pergi untuk mandi, sebuah gumaman terdengar membuat Sean otomatis berbalik.
"Yang udah sadar?" Sean duduk disamping ranjang membantu Jake yang ingin ikut duduk.
"Kenapa disini?" Clingak-clinguk menatap sensitif ruangan yang berbeda dengan miliknya.
Sean terkekeh, "Ah itu maaf aku bawa kesini soalnya kamu mabuk. Takutnya mama atau papa kamu marah"
Jake mengecek kedua matanya mencoba mengingat-ingat kejadian lalu. Ia sontak menjauh dari Sean saat teringat dirinya sedang marah.
"Loh yang kenapa?" Sean ikut bingung.
"Ngapain sih pake acara jemput segala. Aku kan nggak pernah minta" ketusnya tiba-tiba. Sean mengerutkan keningnya.
Jake langsung beranjak dari kasur namun ditahan oleh Sean. "Yang pulang besok, aku anter. Ini udah malem"
"APA SIH! NGGAK USAH PEGANG!" bentak Jake membuat Sean memejamkan matanya. Jake juga menepisnya kasar.
Sean masih belum mencerna apa yang terjadi. Dirinya terus mendekati pacarnya berusaha untuk menenangkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Listen To Me || SUNGJAKE [END]
FanfictionPlease jangan salah lapak #bxb "Mau semaksa apapun aku ngakuin kalo kamu itu pacar aku, mereka lebih percaya kalo yang jadi pacar kamu itu si Haidar" Sean menjelaskan dengan nada sedikit tegas. #1 jakehoon (1-2-2024)
![Listen To Me || SUNGJAKE [END]](https://img.wattpad.com/cover/343566905-64-k479765.jpg)