17. Hari Keberuntungan

528 36 5
                                        

"Aduh yang aku deg-degan ketemu mama kamu" langkahnya terhenti ketika diambang pintu.

Baru kali ini dirinya bertemu keluarga Jake setelah berpacaran hampir dua tahun. Jantungnya berdetak kencang dan nafasnya memburu.

"Ayo ih katanya mau bilang kalo semalem nginep" Jake menarik-narik lengan Sean.

Sean merengek, "tak kirain biasa aja, ternyata seserem ini".

"Ayo cepetan mama nggak gigit. Daripada nanti diejek sama Sabian" ancam Jake yang akhirnya diturutin.

Sean menghela nafas panjang saat tiba di ruang tamu. Mama jake sedang memasak didapur.

"Mama! Mama!" Teriak Jake memanggil mamanya.

"Yang jangan teriak malu aku" Sean malah bersembunyi dibalik tubuh Jake.

Mama datang beberapa detik setelahnya, Sean langsung membungkuk memberi salam.

"Pagi Tante"

"Loh?" Jake tersenyum ke mama nya yang masih mematung.

Ia menepuk pantat Sean agar kembali tegak. Sean pun gelagapan.

"Semalem abang kemana ? Terus ini siapa?" Tatapan Mama mengintimidasi membuat Sean tambah takut.

"Anu ... Itu anu"

"Mama jangan natep kayak gitu Sean takut"







"Oh jadi kamu temennya Jake. Perasaan mama nggak pernah liat apa emang baru pertama kesini?"

Mereka bertiga kini tengah menikmati sarapan pagi dengan obrolan yang perlahan mulai menghangat. Walaupun Sean masih canggung namun dirinya teyap berusaha untuk lebih terbuka lagi.

"Baru pertama kesini tante" jawab Sean diakhiri dengan senyuman.

Mama mengangguk paham, "Biasanya tuh yang kesini siapa itu bang? Haidar ya namanya mama lupa"

Mendadak sesak di dadanya saat tahu nama itu terucap. Jake tidak pernah bilang jika Haidar sering kesini.

Jake menoleh lalu tersenyum, meremat tangan Sean diatas pahanya mengisyaratkan untuk memaklumi.

"Itu dimakan dulu, dihabisin. Yang dimangkok punya Sabian orangnya belum bangun—eh ini panjang umur"

Bersamaan dengan Sabian yang datang dengan rambut masih berantakan sehabis bangun tidur.

"Anjir Kak Sean" kagetnya lalu berlari ke kamar mandi karena malu.







"IHHH KOK NGGAK BILANG KALO ADA KAK SEAN SIH!!!!"





Sontak yang disana pun tertawa mendengar itu. Sean merasa hatinya menghangat berada disana, sudah tiga tahu berlalu sejak Bundanya meninggal. Mama Jake sangat lembut walaupun kesan pertama yang ia lihat menyeramkan.

"Sering-sering main kerumah Jake ya Sean. Biar dia nggak keluyuran terus. Kalo bisa ajak dia belajar, nilainya anjlok semua"

"Mama apaan sih"

"Iya tante dengan senang hati"

• LTM •

Hari berlalu begitu cepat, dan minggu berganti menjadi Senin. Seperti janjinya hari lalu, Sean akan mengantar jemput pacarnya tiap sekolah.

"Yang nanti pulang beli kuping ya ini udah nggak enak bunyinya"

"Iyaaaaaa Seannn" jawabnya sengaja memanjangkan.

Listen To Me || SUNGJAKE [END] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang