51. Jonathan

452 30 12
                                        

"Sean hpnya aku pinjem dulu boleh kan? Sehari aja deh" mintanya sambil memeluk lengan kepunyaannya itu.

Sean menyipitkan kedua matanya, "emm ada syaratnya"

Jake berdecak kesal, tak biasanya Sean memberi syarat tak jelas itu.

"Ih apaan sih main syarat syarat segala. Biasanya juga langsung dikasih" Jake langsung melepas pelukannya dan menjauh.

Sean terkekeh lalu mendekatkan bibir ke telinga Jake.

"Syaratnya harus peluk dulu" bisiknya membuat pipi Jake langsung memerah.

Ternyata hanya pelukan? Jake tertawa tak bisa menahan sikapnya. Ia langsung berhambur untuk memberikan pelukan cuma cuma itu. Dan Sean membalasnya dengan senang hati.

"Kangen banget bisa peluk gini"

"Kamu mah apa aja dikangenin"

"Salahin bocil satu ini lah yang bikin aku kangen terus" Sean menyisir surai Jake ke belakang.

"Bocil?!"

LTM •

Sore yang harusnya ke cafe, Sean malah menghilang pergi entah kemana. Dan Jake kesusahan jika ponselnya saja ia yang bawa.

Jake takut karena berkali kali mas Daniel menelpon. Haruto ikut memakinya lewat pesan. Apa perlu Jake katakan jika ia tidak tahu juga keberadaan Sean.

"Ini gimana? Angkat gak ya? Takut, tapi penting" ponselnya terus berdering.

Sepuluh menitan dan telpon itu masih menghantuinya. Terpaksa ia angkat panggilan dari Haruto.

"Iya halo?"

"Sean lo dimana sih!?" Suaranya membentak membuat Jake menciut.

"I-ini Jake"

"Jake? Sean kemana? Sama lo gak?"

"Enggak, tapi hpnya aku bawa"

"Ck, kemana sih tuh anak. Gak tau apa kita keteteran—yaudah bilangin ya suruh cepet kesini, rame banget dan gak ada orang, Juna juga gak dateng"

"I-iya maaf ya"

Panggilan terputus dan Jake langsung mengambil nafas leganya. Bayangan Haruto si pelawak ternyata serem juga.

Jake langsung bersiap siap untuk mencari Sean dirumahnya.

Tak sampai setengah jam Jake sampai, dan ternyata sepi. Bagaimana ia harus mengatakan kepada Haruto jika yang dibutuhkan malah menghilang entah kemana.

"Eh Jake, Sean mana?" Tanya Haruto yang kedua tangannya sibuk membuat kopi.

"Duh udah aku cari gak ada dirumah" Jake menggaruk tengkuknya.

"Ck nyusahin aja" umpatnya.

Bisa Kake lihat jika cafe sangat ramai dan hanya ada Haruto sendiri.

"Ruto kalo boleh aku bantuin aja, sekalian nunggu Sean mungkin lagi perjalanan kesini" tawarnya sedikit ragu.

Haruto mengerutkan keningnya tak percaya, antara takut dan butuh. Jake menelan ludah canggung.

Listen To Me || SUNGJAKE [END] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang