"Anjai gantungan kunci lo kece juga cok" Nathan merangkul pundak Haidar.
Haidar terkekeh, walaupun tak seberapa tapi benda kecil itu sangat berharga baginya. Jeriko ikut merangkul disampingnya.
"Anak kita udah gede Nat, udah umur 19" goda Jeriko.
"Ada si tuli tuh bully yok" Nathan mengalihkan atensinya ke Sean yang sedang sendirian dibangku depan kelas.
Nathan melesat begitu saja tanpa menjawab Jeriko. Haidar langsung berlari menyusul karena tidaka ada alasan lagi untuk membully Sean. Mereka sudah akrab seperti dulu.
Sementara Nathan sudah sampai didepan Sean. Ia merebut buku bacaan Sean dan membuangnya begitu saja. Sean menatap buku itu yang kini sudah kotor terkena lantai. Ia beralih menatap wajah Nathan yang lebih tinggi darinya.
"Baca apa nih" ucap Nathan dengan nada mengejek.
Sean hanya menunduk menatap kaki Nathan yang ia letakkan diatas bangku samping dirinya duduk.
Nathan menggeser kecil kakinya hingga seragam yang Sean kenakan itu terkena tanah yang berasal dari sepatu Nathan.
"Nathan jangan" pinta Sean pelan sambil menyingkirkan kaki itu.
Nathan tersenyum licik sebelum akhirnya kaki itu ia daratkan diperut Sean. Menekan sedikit hingga Sean merasa kesakitan.
"Nathan sakit" rintih Sean berusaha menyingkirkan kaki itu namun kekuatan Nathan jauh lebih kuat.
"Nat lo apa-apaan sih!? Lo tau nggak itu sakit!" Haidar marah, ia mendorong Nathan cukup kasar hampir terhuyung jatuh ke lantai.
Sean kaget begitupun juga Nathan. Sean membersihkan seragamnya dan meraih buku bacaannya yang tadi dibuang.
"Dar? Kita biasa ngelakuin ini. Lo lupa?" Nathan menatap aneh Haidar, wajah itu tampak marah.
"Itu dulu Nat, sekarang nggak" jawab Haidar seakan dirinya sedang memihak Sean.
Nathan terkekeh, hatinya ngilu kenapa teman dekatnya justru malah membela musuhnya. Nathan kembali menatap Haidar, kali ini dengan tatapan dingin.
"Oh jadi lo kerasukan setan pantai sampe berubah drastis gitu?"
Haidar mengerutkan keningnya, begitu juga dengan Jeriko dibelakang.
"Ngomong apaan sih lo Nat. Nggak ada gue berubah" Haidar tak terima.
"Emang nggak ada di lo, tapi ada di gue" tegas Nathan sebelum akhirnya masuk ke kelas.
Jeriko menepuk pundak Haidar dua kali, "lupain, dia lagi sensi. Biar gue susul dia" Jeriko lantas berlari kecil-kecil menghampiri.
Haidar tak ambil pusing jika Jeriko sudah mengatasinya. Ia kemudian tersenyum dan memilih duduk disamping Sean. Ia juga membantu membersihkan noda kotor diseragamnya.
"Maafin Nathan ya"
"Hm, kayaknya Nathan nggak suka kamu deket-deket aku" Sean mengecek ke dalam kelas sebelum menoleh ke Haidar.
Haidar menggeleng sambil terkekeh, "ngaco deh, dia emang orangnya emosian"
"Maaf" Sean menunduk.
"Soal?"
"Nathan"
"Astaga, nggak perlu minta maaf toh itu salahnya Nathan kan? Harusnya Nathan yang minta maaf" Haidar merangkul Sean dan menepuk-nepuk gemas kakaknya itu.
Tak disangka percakapan itu didengar oleh Nathan di balik tembok. Nathan mengeraskan rahangnya dan mengepal kuat tangannya. Ia merasa Sean telah merebut teman dekatnya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Listen To Me || SUNGJAKE [END]
FanfictionPlease jangan salah lapak #bxb "Mau semaksa apapun aku ngakuin kalo kamu itu pacar aku, mereka lebih percaya kalo yang jadi pacar kamu itu si Haidar" Sean menjelaskan dengan nada sedikit tegas. #1 jakehoon (1-2-2024)
![Listen To Me || SUNGJAKE [END]](https://img.wattpad.com/cover/343566905-64-k479765.jpg)