38. Semesta Yang Sederhana

443 34 4
                                        

Secangkir teh panas ditambah mendoan dengan asap tipis yang mengepul. Dikantin Sean dan Jake sarapan bersama. Hal itu tentu membuat Jake senang, karena sesuai kebiasaannya, Sean selalu menolak ajakan Jake dengan alasan menghemat atau sudah makan.

"Kamu nggak sarapan tadi pagi?" Tanya Jake setelah menyeruput teh yang masih panas itu.

Sean menghentikan aktivitasnya, diam sejenak lalu menggeleng. Tentu mengundang tawa bagi seorang Jake.

"Kenapa mikir dulu ish, sarapan nggak tadi?" Ulanginya.

Sean mengerjap sambil mengangguk, apa ada yang salah dengannya?

"Sarapan kok?"

Jake menggeleng, "yaudah itu dimakan biar aku yang bayar"

"Nggak! Aku aja!" Tegas meletakkan sendok dimangkok soto nya.

"Sstt diem, kalo makan nggak boleh sambil ngomong"

"Yang aku aja ihh, ya ya? Aku bayar sekarang" Sean justru bangkit lalu segera menghampiri kantin nomer 3 tempat ia memesan makanan itu.

"Dasar bocah gengsi" gumamnya.

Beberapa menit kemudian Sean kembali. Menghabiskan makanannya. Jake asik dengan mulut penuhnya dengan sebelah tangan memegang mendoan sebelahnya lagi meemgang keripik kentang.

"Kenapa diliatin terus? Makan diabisin" ucap Jake saat sadar telah ditatap lama oleh Sean.

Sean terkekeh.















"Em hari ini kamu ke cafe?" Tanya Jake sambil menatap laki laki itu.

"Iya kayaknya tapi iya deh" gugupnya.

Jake terkekeh, tangannya melingkar dipinggang laki laki itu dam sedikit mengeratkannya.
Dan Sean mulai salah tingkah.

"Y-yang??"

Hanya deheman dari Jake.

Sean menelan ludah, berusaha menahan sikapnya yang ingin membalas pelukan itu namun masih ramai.

"Nanti aja dirumah ih jangan disini" rengeknya pelan.

"Kenapa emangnya? Kan udah pada tau kalo kita itu pacaran" godanya.

Terlihat pipi Sean yang mulai memerah.

"Iya tapi–sayang" rengeknya sekali lagi.

"Iya iya" Jake melepaskan rangkulan itu, sedikit memukul lengan karena merasa lucu.

"Bilang aja kamu salting kan? Hayo lo. Lemah banget imannya, cupu" ejeknya sambil memutar ibu jarinya ke bawah.

"Btw kamu mau ulang tahun kan cie cie tambah tua" disela sela perjalanan menuju kelas Jake menggoda pacarnya.

Sean menghentikan langkahnya sejenak, mengerutkan kening mencoba mengingat ingat tanggal ulang tahunnya sendiri.

"Emang kapan yang?" Tampaknya Sean sendiri lupa.

"Seminggu lagi ish masa lupa sih! Nyebelin"

"Ah seminggu lagi berarti deket banget ya?"

"Hm" cuek Jake masih ngambek.

"Kamu mau apa dari aku? Em kado? Atau mau kemana biar aku yang bayarin" Jake menatap ringan kearah Sean.

Sean menggeleng kenceng, menolak langsung.

"Ck kebiasaan, ini seriusan kan kamu lagi ulang tahun Sean!" Tegasnya.

"Engga sayang, cukup sama kamu aja udah termasuk kado terindahku" walaupun terlihat bercanda namun itu adalah yang Sean rasakan.

Listen To Me || SUNGJAKE [END] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang