Satu bulan kemudian semakin ada perkembangan pada pelayanan Jake. Ia jadi terbiasa menghadapi segala macam sifat pelanggannya. Dari yang rewel, ketus juga pendiam.
Semakin hari semakin rame saja membuat Jake sedikit kewalahan, apalagi Sean tidak bisa membantunya karena ia bertugas didapur. Sejak pagi tadi ia belum sempat mengisi perutnya dengan apapun. Ia terus meremas perutnya menahan lapar karena ia harus tetap tersenyum dan bersikap seramah mungkin.
"Laper" lirihnya sambil menatap orang orang yang tengah menyantap hidangan.
Ia ingin sekali ia panggil lelakinya itu untuk beristirahat, tapi melihat begitu semangat dan cerianya membuat ia mengurungkan niat tersebut.
"Ternyata susah ya kerja di cafe, harus nahan lapar sambil senyum. Dulu sering banget marahin Sean, malah aku yang kemakan omongan sendiri" batinnya sambil menatap lelakinya dari kejauhan.
Kebetulan saja Sean sedang tersenyum kepadanya membuat Jake tersipu malu.
"Udah makan?" Ucapnya tak bersuara.
Jake menggeleng tanpa mengurangi senyum lebarnya.
"Makan dulu mumpung gak ada yang dateng" perintahnya sembari meletakkan nampan diatas meja.
Tangannya terulur untuk mengecek suhu badan si kecil lalu mengusap surai lebat itu ke belakang.
"Makan dulu sayang, biar aku yang jaga" tuturnya penuh dengan perhatian.
"Hngg tapi kamu aja belum makan jadi nanti aja barengan" rengeknya sambil memeluk pinggang lelakinya.
"Aku mah belakangan aja, yang penting perut kamu keisi dulu. Sana makan" Sean mengusak surai itu dengan gemas.
Jake tetap saja menggeleng.
"Kalo kamu gak makan sekarang nanti malah makin rame sampe malem perut kamu kosong terus" khawatirnya.
"Iya iya tapi abis ini kamu makan ya?" Jake menunjuk wajah Sean seperti sedang mengancam.
"Iya sayang, yang penting kamu dulu. Itu ada yang datang" tunjuk Sean mengambil nampan lalu kembali ke dapur.
"Baik, tunggu sebentar ya" ucapnya ramah.
Jake tersenyum menatap punggung milik dua orang yang baru saja memesan makanan itu. Ia juga ingin istirahat dan makan karena perutnya terus memangil membuatnya pusing.
Beberapa menit kemudian Sean datang meletakkan sepiring nasi goreng dan susu cokelat. Tentu Jake kebingungan, ia mengerutkan keningnya aneh.
"Kok malah ditaruh sini sih? Itu loh udah ditungguin" kesalnya.
"Buat kamu" jawabnya lalu pergi mengantarkan pesanan.
Otaknya yang lemot itu masih mencerna ucapan lelakinya. Sampai akhirnya Sean datang lalu tersenyum.
"Dimakan, itu buat kamu kan kamu belum makan dari pagi" Sean mengacak surai lebat itu sebelum akhirnya kembali ke dapur.
"Nanti bilang aja kalo kurang" tambahnya.
Tanpa sadar ia tersenyum menatap makanan itu.
"Lucu banget sih" gumamnya.
• LTM •
Sudah 2 jam yang lalu sejak Sean pergi, Jake hanya bergulung didalam selimut untuk menonton film. Sudah berbagai cara Sean membujuk agar Jake mau ikut, namun tetap saja si kecil ingin menonton film dirumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Listen To Me || SUNGJAKE [END]
Fiksyen PeminatPlease jangan salah lapak #bxb "Mau semaksa apapun aku ngakuin kalo kamu itu pacar aku, mereka lebih percaya kalo yang jadi pacar kamu itu si Haidar" Sean menjelaskan dengan nada sedikit tegas. #1 jakehoon (1-2-2024)
![Listen To Me || SUNGJAKE [END]](https://img.wattpad.com/cover/343566905-64-k479765.jpg)