situasi yang semakin keos

172 27 39
                                        

last, for this weeks..!

Happy reading.

***


Nara berkendara dengan kecepatan tinggi, matanya yang terus berair membuat pandangannya sedikit kabur dan berbayang. Bahkan helm fullface yang dia kenakan sudah mulai lembab karena air matanya yang terus mengalir begitu derasnya.

Beberapa meter dari motornya yang melaju kencang, Renata terus mengekori dibelakangnya, khawatir jika terjadi sesuatu kepada Nara yang sedang berkendara dalam suasana hati yang kacau dan kalut.

Menyadari tengah di ikuti membuat adrenalin Nara semakin meningkat, gadis itu menaikan kecepatan motornya dan menyalip beberapa kendaraan di sekitarnya dengan cara yang begitu ekstreme dan ugal-ugalan.

"bang ikutin terus motor itu bang" perintah Renata, kepada Tukang ojek yang dia sewa.

"duh non, motor saya nggak kuat ngimbangin motor begituan. Lagian bahaya non" tolak Tukang ojek itu.

"nanti saya tambahin pak, tolong..! Takut temen saya kenapa-napa"

"bukan soal uangnya non, yang ada kita yang kenapa-napa kalo nekat ngikutin cara naiknya temen non itu"

Tak banyak yang bisa Renata lakukan selain terus memfokuskan matanya untuk mengikuti jejak Nara, yang perlahan semakin menjauh dan tak terlihat karena kendaraan yang dia tumpangi tidak secepat kendaraan Nara.

Setelah memasuki kawasan yang cukup sepi, Renata sedikit lega karena kembali melihat sosok Nara yang masih melaju dengan kecepatan tinggi. Namun jantung Renata seolah mencelos ketika melihat sebuah mobil melaju kencang dari arah kanan, saat Nara hendak melintasi sebuah perempatan.

"NARA AWAS...!!!!" teriak Renata sekencang mungkin, namun na'as, peringatannya terlambat.

BRUAAAAKKK...!!!

Tabrakan pun tak ter-elakkan,  membuat tubuh Nara terpental dan berguling beberapa kali di lantai aspal yang keras.

Renata berhambur turun dari motor dan berlari menghampiri Nara sambil berteriak histeris, dengan tubuh gemetaran dan nafas tercekat, gadis itu berjongkok menghampiri Nara yang hampir tak sadarkan diri.

"rra, bangun ra.." panggilnya lirih, namun Nara tak bergeming.

"Nara, jangan hukum gue kaya gini ra. Hiks..

ra, bangun ra." Renata menangis tersedu saat melihat darah mengalir dari pelipis dan sudut bibir Nara, mata gadis itu berkedip lemah dan tak kuasa berucap sepatah katapun.

Tak jauh dari tempat Nara tergeletak, seseorang turun dari sebuah mobil yang baru saja menepi dan berjalan cepat menghampiri mereka.

"Renata, apa yang terjaa-,

Astaga Nara?" pekik orang itu, sambil menutup mulutnya.

"kak wilman, tolongin Nara kak, tolong kak,  Aku takut.." isak renata, sambil menggoyangkan lengan wilman.

Gadis itu terus berteriak dan menangis histeris, tanpa memperdulikan kerumunan yang mulai memenuhi jalanan itu.

Gadis itu terus berteriak dan menangis histeris, tanpa memperdulikan kerumunan yang mulai memenuhi jalanan itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
PARAMOURTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang