sisi rahasia jennara

197 32 10
                                        

satu lagi ya, jangan minta nambah..!

happy reading

***


Pagi menjelang,

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pagi menjelang,

Nara meraba ponselnya yang terus berbunyi nyaring karena alarm sudah menunjukkan waktu yang dia atur sebelumnya.

Gadis itu duduk dengan mata yang masih terpejam, lalu menggaruk kepalanya sambil menguap.

Dengan wajah kucel dan sayu nara turun dari ranjangnya dan berjalan keluar kamar, gadis itu mengisi teko untuk merebus air kemudian masuk kedalam kamar mandi untuk melakukan aktifitas paginya.

Merasa lebih segar setelah mandi, nara membuat secangkir kopi dan duduk pada bangku dibelakang rumah sambil memandangi ikan-ikan koi peliharaan mendiang ayahnya yang tengah bergerak tenang, di iringi suara gemericik air dari filter kolam.

"ooii belang, mau denger rahasia nggak?" kata nara pada ikan-ikan didepannya.

"kalian tau, di atm ku ada uang ratusan juta. Dan sekarang aku lagi pusing karena bingung harus tetep pakai uang itu atau enggak.

Kalian tau kan selama ini aku selalu mengandalkan diriku sendiri dalam segala hal, apalagi soal uang. Aku nggak mau ngrepotin siapapun.

Menurut kalian gimana?

Apa aku harus jadi orang yang tidak tau diri dan berfoya-foya dengan itu?

Jumlahnya bener-bener diluar galaksi kalau hanya disuruh untuk mendaftar kuliah." Nara terdiam sejenak mengamati reaksi yang diberikan ikan-ikan didepannya, kemudian mendengus karena mau mengeluh atau bercerita seantusias apapun makhluk-makhluk kecil itu akan selalu menunjukkan reaksi serupa.

Sepertinya memang nara yang terlampau konyol karena selalu mengajak ikan mengobrol.

"ck,,sekali-sekali kalian kasih reaksi beda dikit kek. Tiba-tiba melompat kaya lumba-lumba atau berenang terbalik gitu? Dasar ikan..!

Udah ah, kayaknya emang gue yang kurang waras karena selalu ngajak kalian bicara. Hahahaaa..." nara tergelak sendiri dengan suara nyaring, namun tawa kerasnya perlahan berubah menjadi isakan. Isakan yang terdengar pilu. 

"astaga, mulai lagi. Hikss..

Gimana ini? Cuma bicara dengan kalian yang bisa ngalihin rasa kangenku ke ayah.

Apa aku terlihat menyedihkan? Aku harus gimana lagi?

Sekeras apapun aku mencoba baik-baik saja, nyatanya aku masih kangen terus sama ayah bunda. hikss..." nara menutup matanya dengan telapak tangan dan kembali terisak dengan bahu bergetar.

Sejak ayahnya meninggal dunia, nara sering mengajak ikan-ikan peliharaan mendiang sang ayah bicara karena pemilik sebelumnya juga sering melakukan hal yang sama saat memberi makan setiap hari. 

PARAMOURTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang