(SESE STORY ) Mengisahkan tentang perjalanan hidup seorang gadis yatim piatu berusia 18 Tahun bernama Jenara yang terpaksa harus menikah dengan Bima, seorang pria dewasa yang namanya tertulis dalam surat wasiat mendiang ayahnya.
Bagaimana kelanjutan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nara keluar dari ruang persidangan dengan helaan nafas lega, setelah mendengar putusan hakim yang akhirnya memberi keadilan atas kematian mendiang ibunya.
Meski sudah sekian lama berlalu, dan ibunya tidak akan pernah bisa kembali ke pelukannya. Namun Nara tetap merasa perlu untuk memperjuangankan keadilan bagi ibunya, juga untuk mengurangi rasa sakit hatinya karena orang-orang tidak bertanggung jawab itu telah tega meninggalkan ibunya dalam keadaan sekarat dan akhirnya meninggal dunia.
Kedua orang tua Renata mendapat hukuman pidana atas tuduhan pemusnahan barang bukti, juga karena dengan sengaja tidak memberi pertolongan pada korban hingga mengakibatkan korban meninggal dunia dan tidak melaporkan kejadian secara langsung kepada pihak berwajib setelah kecelakaan terjadi.
Semua memang sudah menjadi takdir, tapi bukan berarti segalanya bisa di abaikan dan terlupakan begitu saja.
Nara melangkah menyusuri koridor untuk keluar dari gedung pengadilan, bersama Bima yang sejak awal turut mendampingi Nara selama proses persidangan, mereka saling bergandengan tangan dengan perasaan puas karena berhasil mendapatkan keadilan yang seharusnya sudah lama mereka terima.
"sebentar sayang, aku mau bicara sama pengacara kita sebentar.
Kamu ke parkiran duluan nggak apa-apa kan?" kata Bima, yang baru saja mengingat sesuatu. Entah sejak kapan kata Saya sudah berubah menjadi aku, ketika Bima bicara dengan Nara. Sepertinya mereka sudah benar-benar tidak berjarak sekarang.
"memangnya kakak mau ngobrolin apa lagi? kan semua udah beres"
"ah, ini soal legalitas perusahaan aja kok."
Nara tampak manggut-manggut " yaudah deh, jangan lama-lama tapi. aku pengen cepet-cepet ke makam Ayah sama Bunda"
"iya sayang, yaudah aku kesana sebentar ya" bima mengusak gemas puncak kepala Nara, lalu beranjak kembali keruang persidangan untuk menemui pengacara.
Nara berjalan seorang diri menuju tempat dimana mobil Bima terparkir, namun langkah gadis itu dibuat terhenti oleh sosok Renata yang kini berdiri dihadapannya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Mereka saling bertukar pandang dengan tatapan sendu, namun ada sorot kerinduan yang begitu mendalam terpancar jelas dari sorot mata keduanya.
Alih-alih menyapa, Nara menghela nafas kasar sejenak, lalu kembali melangkahkan kakinya, melewati Renata yang masih tertegun ditempatnya berdiri.
Tersadar dari kebekuannya, Renata berbalik dan mencekal lengan Nara.