(SESE STORY ) Mengisahkan tentang perjalanan hidup seorang gadis yatim piatu berusia 18 Tahun bernama Jenara yang terpaksa harus menikah dengan Bima, seorang pria dewasa yang namanya tertulis dalam surat wasiat mendiang ayahnya.
Bagaimana kelanjutan...
udah nih beneran? yaudah yuk lanjut baca paramour lagi. hehehee...
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"ayo sayang, kamu sudah makan itu dua porsi, nanti sakit perut lho"
"nggak sayang, aku mau pesen satu porsi lagi ya. pliss..!!"
"ya ampun, jangan donk. kan nggak lucu kalau liburan kita berakhir dengan kamu kena diare"
"ayolah sayang, satu porsi lagi ya, aku janji habis ini kita langsung balik ke hotel"
"ck, yaudah, tapi cuma boleh makan setengah porsi aja"
"beneran?"
"iyaa,,buruan sana pesan"
"yess,, makasih sayang. muaaachhh"
Nara hanya bisa geleng-geleng kepala memandangi punggung suaminya yang perlahan menjauh dari pandangan seteleh mengecup sekilas pipi tembamnya. sudah hampir memasuki tri semester kedua kehamilannya, dan Nara sudah jarang sekali mual atau menginginkan sesuatu yang aneh. Namun siapa sangka bahwa kebiasaan ngidamnya diteruskan oleh Bima yang akhir-akhir ini membuatnya tak habis pikir dengan keinginan randomnya.
Belakangan Nara suka kehilangan suaminya saat tidur, karena Bima yang tiba-tiba gemar menyemil makanan pedas di tengah malam. Bahkan Bima sering berhenti secara random untuk membeli makanan dipinggir jalanan, dan itu cukup membuat Nara benar-benar heran.
Seperti saat ini misalnya, Mereka tengah menikmati long weekend dengan berlibur ke Bandung, namun Nara dibuat pusing karena Bima yang terus merengek untuk membeli seblak lagi, padahal pemuda itu baru saja menghabiskan porsi keduanya. mungkin Nara akan membiarkan saja Bima menambah porsi makannya jika saja pemuda itu memesan seblak dengan level kepedasan standar, tapi Nara sedikit khawatir karena Bima memesan level terpedas untuk pesanannya.
Nara mengamati wajah tertunduk Bima yang kini tengah menikmati seblak pedas didepannya, sesekali Nara mengelap keringat yang membasahi kening pemuda itu dengan tissu.
"setengah aja, awas aja nekat dihabisin.
kakak tidur di sofa malam ini" ancam Nara, sambil menggeser minuman saat melihat Bima mulai mangap-mangap kepedasan.
"aku mencari rasa seperti ini, tapi nggak nemu dijakarta.
bagaimana kalau kita berkendara jauh sesekali buat makan ini?"
"no thanks, kakak modalin saja pemilik kedai ini untuk membuka cabang disana, atau kakak kasih satu stand khusus di kantin kantor kita" jawab Nara dengan maksud menyindir, karena sepertinya Bima mulai berlebihan.
"wah, kamu memang paling pintar mencari solusi sayang.
aku akan coba bicara sama pemiliknya saat membayar nanti" Bima melanjutkan menghabiskan makanannya.